Sabtu, 22 Oktober 2016

keterkaitan antara QS. Al-Jatsiyah ayat 5 dengan ekologi tumbuhan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos yang berarti tempat tinggal, dan Logos yang berarti ilmu (Zoeraini, 2003). Ekologi dapat diartikan sebagai cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan sesamanya serta lingkungannya. Odum (1993) menyatakan bahwa ekologi merupakan sebuah studi tentang struktur dan fungsi ekosistem (alam) dengan makhluk hidup sebagai bagiannya. Struktur ekosistem menunjukkan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk keadaan densitas organisme, biomassa, penyebaran unsur hara, energi, serta faktor-faktor fisik yang dan kimia lainnya yang menyebabkan keadaan sistem tersebut.
Pembahasan ekologi tidak bisa lepas dari komponen pendukungnya baik komponen biotik maupun abiotik. Komponen biotik terdiri dari hewan, manusia, dan tumbuhan sedangkan untuk komponen abiotiknya antara lain yaitu tanah, air, cahaya, suhu dll. Namun pada pembahasan kali ini akan dibahas mengenai ekologi tumbuhan serta faktor abiotik yang berkaitan dengannya.
Ekologi merupakan bagian kecil dari ilmu biologi, oleh karenanya suatu ilmu tidak dapat berdiri sendiri-sendiri melainkan membutuhkan ilmu yang lain untuk saling mendukung antara satu dengan yang lainnya, pembahasan ini mengenai integrasi antara ekologi tumbuhan dengan islam. Menurut pernyataan Suprayogo (2009) yang menyatakan bahwa Integrasi adalah pengembangan keterpaduan secara nyata antara nilai-nilai agama (dalam hal ini Islam) dengan ilmu pengetahuan pada umumnya. Selain memperdalam ilmu umum juga penting memperdalam ilmu agama agar keduanya berjalan seimbang seperti firman Allah dalam al-Qur'an surat At-Taubah ayat 122 yang berbunyi:
at-taubah-122.jpg
Artinya:
"Tidak sepatutnya bagi mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapa mereka tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya."
Ayat di atas telah menjelaskan betapa pentingnya menuntut ilmu, oleh karenanya pengintegrasian nilai-nilai islami dilakukan dengan cara melampirkan kutipan-kutipan ayat al-Qur'an atau hadits yang relevan dengan topik atau materi pembelajaran, seperti yang telah diterapkan pada proses pembelajaran Ekologi Tumbuhan ini. Makalah ini akan mengutip satu ayat dari al-Qur'an kemudian akan dijabarkan serta diintegrasikan dengan ekologi tumbuhan.
1.2  Rumusan Masalah
Rumusan yang terdapat dalam makalah ini adalah:
1.      Bagaimana keterkaitan antara QS. Al-Jatsiyah ayat 5 dengan ekologi tumbuhan?
2.      Apa peranan siang dan malam terhadap pertumbuhan tanaman?
3.      Apa peranan air dan tanah bagi tumbuhan?
4.      Apa peranan angin bagi tumbuhan dan lingkungan sekitar?
1.3  Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui adanya keterkaitan antara QS. Al-Jatsiyah ayat 5 dengan ekologi tumbuhan
2.      Untuk mengetahui peranan siang dan malam terhadap pertumbuhan tanaman
3.      Untuk mengetahui peranan air dan tanah bagi tumbuhan
4.      Untuk mengetahui peranan angin bagi tumbuhan dan lingkungan sekitar







BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengutipan Ayat al-Qur'an beserta Artinya
Untuk mengetahui bagaimana integrasi antara nilai-nilai Islami dengan ilmu Ekologi Tumbuhan, dikutip satu ayat dalam al-Qur'an yakni QS. Al-Jatsiyah ayat 5 yang berbunyi :
images.png
Artinya :
"dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal." (QS. 45:5)
Ayat di atas lebih kurang menjelaskan mengenai pergantian siang dan malam, turunnya hujan yang menyebabkan suburnya tanah, serta angin. Dimana semuanya merupakan ciptaan Allah yang pasti memiliki tujuan, serta di dalam penciptaannya terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau berfikir.
Salah satu kemukjizatan al-Qur'an ini menceritakan fenomena alam semesta yang dahulunya belum diketahui oleh manusia, hal ini jelas bahwa al-Qur'an bukan hasil karya manusia, melainkan wahyu dari Allah SWT Sang Pencipta Alam Semesta. Maka sudah sepatutnya dengan memperhatikan alam serta memikirkannya hendaknya menambah rasa keimanan kita kepada Allah SWT.
2.2 Pergantian Siang dan Malam
2.2.1 Pengertian dan Proses Pergantian Siang dan Malam
Pergantian siang dan malam merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT, karena silih bergantinya siang dan malam tersebut tercipta kehidupan di muka bumi, sehingga manusia mengetahui sejarah dan peristiwa yang terjadi dari masa ke masa, tanpa adanya pergantian siang dan malam kehidupan di bumi ini tidak akan berlangsung. Dapat dipahami bahwa pergantian siang dan malam ini merupakan dakwah kepada seluruh makhluk untuk beriman kepada Allah.
Pergantian siang dan malam yang terjadi setiap hari disebabkan oleh dua hal utama. Pertama, karena sumber cahaya kuat di tata surya hanya ada satu yakni matahari dan yang kedua adalah karena bumi berputar pada porosnyaMenurut Ibayati (2008) menyatakan bahwa Gerakan berputar Bumi pada porosnya atau yang sering disebut rotasi Bumi, mengakibatkan permukaan Bumi yang terkena sinar Matahari berubah bergantian sejalan dengan kecepatan Bumi berputar. Permukaan Bumi yang terkena sinar Matahari akan mengalami keadaan terang atau siang dan sebaliknya, yang tidak terkena sinar Matahari akan mengalami keadaan gelap atau malam.. Arah rotasi Bumi adalah dari arah barat ke timur. Sehingga dalam hal ini, bumi akan beputar berlawanan arah dengan arah perputaran jarum jam. Keadaan ini juga mengakibatkan belahan Bumi dibagian timur mengalami waktu pagi paling awal dan juga Matahari terlihat terbit dari arah timur.
earthrotate.gif
2.2.2 Manfaat Pergantian Siang dan Malam
            1. Fotoperiodisme
Salah satu manfaat dari fenomena pergantian siang dan malam pada tumbuhan yaitu pada proses atau kejadian fotoperiodisme. Menurut (Campbell, 1999) yang menyatakan bahwa  fotoperiodisme  adalah  reaksi  fisiologis  organisme  dengan panjang siang atau malam hari berupa respon perkembangan tanaman untuk panjang relatif periode terang dan  periode gelap dan hal ini berhubungan langsung dengan waktu, baik periode terang maupun periode gelap.
Pada tumbuhan, fotoperiodisme merangsang pembungaan. Untuk beradaptasi dan merespon perubahan panjang malam dan intensitas penyinaran, tanaman berbunga (angiospermae) menggunakan  fitokrom atau kriptokrom. Keduanya merupakan protein fotoreseptor. Dalam pembagian lebih lanjut, tanaman fotoperiodik obligat benar-benar membutuhkan penyinaran yang cukup panjang atau waktu malam yang cukup pendek sebelum berbunga, sedangkan tanaman fotoperiodik fakultatif lebih mungkin untuk berbunga di bawah kondisi cahaya yang tepat, tapi akhirnya akan berbunga tanpa panjang malam (Mauseth, 2003). Berdasarkan respon tanaman terhadap panjang hari, pada beberapa jenis tanaman budidaya dapat digolongkan sebagai tanaman hari pendek (SDPs), tanaman hari panjang (LDPs), dan tanaman hari netral (DNPs) (Gardner, 1999).
            2. Fotosintesis
Cahaya matahari merupakan sumber energi utama bagi kehidupan seluruh makhluk hidup di dunia. Bagi manusia dan hewan cahaya matahari adalah penerang dunia ini. Selain itu, bagi tumbuhan yang berklorofil cahaya matahari sangat menentukan proses fotosintesis.  Fotosintesis adalah proses dasar pada tumbuhan untuk menghasilkan makanan. Makanan yang dihasilkan akan menentukan ketersediaan energi untuk pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Cahaya dibutuhkan oleh tanaman mulai dari proses perkecambahan biji sampai tanaman dewasa. Jika tidak ada cahaya maka kehidupan di bumi terancam punah, begitu juga sebaliknya.
Cahaya matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Cahaya matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis. Cahaya Optimal bagi Tumbuhan Kebutuhan minimum cahaya untuk proses pertumbuhan terpenuhi bila cahaya melebihi titik kompensasinya (Wirakusumah, 2003). Oleh karenanya cahaya matahari pada siang hari sangat penting bagi kehidupan tumbuhan, bukan hanya tumbuhan tetapi juga termasuk seluruh makhluk yang ada di bumi, karena dengan terjadinya proses fotosintesis dihasilkan O2 yang diperlukan makhluk hidup untuk respirasi. Menurut (Sasmitamihardja,1996) bahwa pengurangan cahaya dapat menyebabkan pembukaan celah stomata berkurang pada kebanyakan tumbuhan. Hal ini tidak tergantung pada tanggapan stomata terhadap kenaikan CO2 di ruang antar sel akibat penurunan laju fotosintesis. Terdapat bermacam jenis tumbuhan, ada C4, C3 dan CAM yang berbeda proses fotosintesisnya, tetapi secara umum, fotosintesis terjadi seperti gambar di bawah ini:
6CO2 + 6H2O                        C6H12O6 + 6O2
                         klorofil
 
 download.jpgReaksi Forosintesis
2.3 Air dan Tanah
    2.3.1 Pengertian Air
 Air (H2O)  adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. Jenis air  sendiri di bagi menjadi 2 macam yaitu air tawar dan air asin ( Philip, 2005).
gbr11.jpg
Penempatan Air sebagian besar terdapat di laut / air asin dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air dan lautan es, Air dalam objek-objek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan dan aliran air di atas permukaan tanah  (run off, meliputi mata air, muara, sungai) menuju laut ( PH Gleick, 1998).
Air yang bersih sangat penting bagi kehidupan manusia dan alam sekitar, Di banyak tempat di dunia terjadi kekurangan persediaan air. Selain di bumi, sejumlah besar air juga diperkirakan terdapat pada kutub utara dan selatan planet Mars, serta pada bulan-bulan Eropa dan Enceladus. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan bumi dalam ketiga wujudnya tersebut ( PH Gleick, 1998).
     2.2.2 Pengertian Tanah
Bumi tersusun dari banyak lapisan, tanah (bahasa Yunani: pedon; bahasa Latin: solum) adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan  tumbuhan dengan menyediakan  hara  dan  air  sekaligus sebagai  penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak (Wikipedia, 2008).
Tanah merupakan lapisan permukaan bumi yang secara fisik yang berfungsi sebagai tempat tumbuh berkembangnya perakaran, penopang tegaknya tumbuhan, menyupali kebutuhan air, secara biologi berfungsi sebagai habitat (biota) yang berperan dalam penyediaan nutrisi bagi tanaman.
    2.2.3 Manfaat Air dan Tanah
            1. Penyedia Nutrisi bagi Tanaman
Kesuburan tanah adalah Suatu keadaan tanah dimana tata air, udara dan unsur hara dalam keadaan cukup seimbang dan tersedia sesuai kebutuhan tanaman, baik fisik, kimia dan biologi tanah (Tejowuyono, 2006).
Kesuburan tanah adalah kondisi suatu tanah yg mampu menyediakan unsur hara essensial untuk tanaman tanpa efek racun dari hara yang ada (Nursanti, 2009). kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk menyediakan unsur hara essensial dalam jumlah dan proporsi yang seimbang untuk pertumbuhan.
Tanah yang subur sangat baik bagi pertumbuhan tanaman karena di situlah terdapat unsur hara yang digunakan oleh tumbuhan dalam proses perkecambahan dan pertumbuhan misalnya air dan garam mineral. Selain tanah, air juga berperan sangat penting pada perkecambahan.
Biji merupakan suatu alat perkembangbiakan tumbuhan, agar biji dapat  berkecambah menjadi tumbuhan baru, maka biji memerlukan air dari lingungan. Masuknya air ke dalam biji disebut proses imbibisi, yakni proses migrasi molekul air ke suatu zat lain melaui membrane atau pori-pori kulit biji (Sari, 2012).

AIR
 
epigeal.jpg
Contoh perkecambahan epigeal
           
2. Air sebagai Pelarut
Air dapat memfasilitasi proses biologi yang melarutkan  limbah.  Mikroorganisme yang ada di dalam air dapat membantu memecah limbah menjadi zat-zat dengan tingkat polusi yang lebih rendah.
3. Air mengatur buka tutupnya stomata
Pembukaan celah stomata biasanya berkurang jika potensial air daun menurun, perubahan air biasanya disebabkan oleh kenaikan kadar absisat yang dihasilkan dalam mesofil dengan laju yang tinggi atau oleh keduanya pada potensial daun berkurang (Kimbal, 2002).
p.txt
4. Peranan air dalam proses respirasi
Tanaman yang biasa hidup di darat bila tergenang air agak lama akan terancam kehidupannya. Hal ini karena respirasi aeron terhenti sama sekali, sedangkan respirasi anaerob tak mungkin mencukupi energi yang dibutuhkan tumbuhan, serta akumulasi dari hasil akhir respirai anaerob lama kelamaan akan menjadi racun bagi tumbuhan tersebut.
2.4 Angin
2.4.1 Pengertian Angin
Angin adalah udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara di sekitarnya. Angin bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara rendah . Angin adalah udara yang bergerak   yang  diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan  tekanan  udara di sekitarnya. Angin bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara rendah. Apabila dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih  ringan sehingga naik. Apabila hal ini  terjadi , tekanan udara turun kerena udaranya berkurang. Udara  dingin di sekitarnya  mengalir ke tempat yang bertekanan rendah tadi.  Udara menyusut menjadi lebih berat   dan turun  ke tanah. Di atas tanah udara menjadi panas  lagi dan naik kembali.  Aliran naiknya  udara panas dan turunnya  udara dingin ini dinamanakan  konveksi (Tjasyono, 2004).
2.4.2 Manfaat Angin bagi Tumbuhan
Angin sangat membantu dalam penyerbukan tanaman. angin akan membawa serangga penyerbuk  lebih aktif membantu terjadinya persarian bunga dan pembenihan alamiah. Sedangkan pada keadaan kecepatan angin  kencang, kehadiran serangga penyerbuk menjadi berkurang sehingga akan berpengaruh terhadap keberhasilan penangkaran benih dan akan menimbulkan penyerbukan silang.
Kartasapoetra (1993) menyatakan bahwa pemencaran konidium pada satu musim tanam tembakau di Jember didukung oleh peningkatan kecepatan angin dan penurunan kelembaban udara. Pada bulan kering maupun bulan lembab peningkatan kecepatan angin yang diikuti dengan menurunnya kelembaban udara akan mendukung pemencaran konidium. Berdasarkan data aktual untuk memencarkan konidium hanya memerlukan kecepatan angin 0,28 m/det pada suhu 25ºC.



BAB III
PENUTUP
            Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas yaitu:
1.      Terdapat keterkaitan antara QS. Al-Jatsiyah ayat 5 dengan ilmu biologi, dalam hal ini ekologi tumbuhan, yakni pada ayat tersebut berisi mengenai pergantian siang dan malam, air hujan yang menyuburkan tanah, serta angin yang semuanya diciptakan Allah memiliki manfaat bagi kelangsungan hidup makhlukNya.
2.      Beberapa manfaat adanya pergantian siang dan malam bagi tumbuhan yaitu untuk fotoperiodisme dan proses fotosintesis.
3.      Beberapa manfaat air bagi tumbuhan yaitu sebagai pelarut, berperan dalam proses respirasi serta poese buka tutup stomata, dan salah satu peranan bagi tanah yaitu penyedia nutrisi serta tempat melekatnya akar.
4.      Salah satu manfaat angin bagi tanaman yaitu sebagai penyerbuk selain serangga, selain itu jga berperan dalam penyebaran benih (biji) tanaman ke tempat yang lebih jauh.


5.       
DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Tanah diakses pada tahun 2015
Campbell  N. A; Jane B. Reece; Lawrence G. Mitchell . 1999. Biology. Texas: Hill Country Books
Gardner, F.P., R.B. Pearce, dan R. L Mitchell. 1991. Physiology of Crop Plants. Jakarta: UI Press
Ibayati, Yayat et al. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Kartasapoetra, Ance Gunarsih. 1993. Klimatologi Pengaruh Iklim terhadap Tanah dan Tanaman. Jakarta: Bumi Aksara
Kimbal, J. W. 2002. Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Erlangga
Mauseth, James D. 2003. Botany : An Introduction to Plant Biology (3rd ed.). Sudbury, MA: Jones and Bartlett Learning. pp. 422–427. ISBN 0-7637-2134-4.
Nursanti, Ida dan Abdul Madjid Rohim. 2009. Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.   Universitas Sriwijaya  Program Studi Ilmu Tanaman 
PH Gleick and associates. 1998. The World's Water: The Biennial Report on Freshwater Resources. Washington, D.C: Island Press
Philip, Ball. 2005. Water and life: Seeking the solution. Nature 436, 1084-108 doi:10.1038/ 4361084a
Sasmitamihardja, dkk., 1996, Fisiologi Tumbuhan, Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, FMIPA-ITB
Suprayogo, Imam. 2009. Paradigma pengembangan Keilmuan di Perguruan Tinggi. Malang: UIN Press
Tejoyuwono, Notohadiprawiro et al. 2006. Pengelolaan Kesuburan Tanah dan Peningkatan Efisiensi Pemupukan. Yogyakarta: Ilmu Tanah Universitas Gadjah Mada. 
Tjasyono, B. 2004. Klimatologi. Bandung: ITB
Wirakusumah, S. 2003. Dasar-dasar Ekologi Bagi Populasi dan Komunitas. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia
Zoeraini, Djamal Irwan. 2003. Prinsip-Prinsip Ekologi. Jakarta: PT Bumi Aksara





Tidak ada komentar:

Posting Komentar