Sabtu, 22 Oktober 2016

 SISTEM PEREDARAN DARAH DALAM AL-QUR'AN
1.1  Ayat al-Qur'an yang berhubungan dengan Sistem Peredaran Darah
Qs. Al-Isra ayat 36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya:
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Qs. Al-Qaaf ayat 16
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya:
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Qs. Al-Haqqah ayat 45-46
69_46.png69_45.png
Artinya:
"Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya."
1.2  Hadits yang Berhubungan dengan Sistem Peredaran Darah
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُأَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
Artinya:
"Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu (jantung)!"  ( HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)[1]
1.3  Tafsir Ulama Mengenai Qs. Al-Isra ayat 36
Ali Ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa makna la taqfu ialah la taqul yang artinya janganlah kamu mengatakan. Menurut Al Aufi, janganlah kamu menuduh seseorang dengan sesuatu yang tiada pengetahuan bagimu tentangnya. Muhammad Ibnul Hanafiyah mengatakan, makna yang dimaksud ialah kesaksian palsu. Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah kamu mengatakan bahwa kamu melihatnya, padahal kamu tidak melihatnya, atau kamu mengatakan bahwa kamu mendengarnya padahal kamu tidak mendengarnya, atau kamu mengatakan bahwa kamu mengetahuinya padahal kamu tidak mengetahui. Karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban darimu tentang hal tersebut secara keseluruhan. Kesimpulan pendapat mereka dapat diartikan bahwa Allah melarang mengatakan sesuatu tanpa pengetahuan, bahkan melarang pula mengatakan sesuatu berdasarkan zan (dugaan) yang bersumber dari sangkaan dan ilusi dari hati serta pikiran.[2] 
1.4  Tafsir Ulama mengenai Qs. Al-Qaaf ayat 16
Para ulama ahli tafsir berselisih pendapat mengenai makna kedekatan dalam Qs. Al-Qaaf ayat 16, apakah yang dimaksud adalah kedekatan Allah atau kedekatan malaikat. Abul Faroj menyebutkan bahwa ada dua pendapat ketika mengartikan kedekatan dalam ayat di atas. Pertama adalah kedekatan para malaikat. Kedua adalah kedekatan Allah dengan ilmu-Nya, sebagaimana yang disebutkan dari Abu Sholih, dari Ibnu ‘Abbas.
Namun ingat, mereka sama sekali tidak memaksudkan kedekatan di situ adalah kedekatan Dzat Allah ‘azza wa jalla, yaitu Dzat Allah dekat dengan urat leher dari seorang hamba. Jadi, jika ulama tersebut menafsirkan kedekatan di situ bukan kedekatan para malaikat, maka mereka mereka akan menafsirkan bahwa kedekatan tersebut adalah kedekatan dengan ilmu dan qudroh (kekuasaan) Allah. –Demikian penuturan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[3]
Dari dua tafsiran ulama mengenai “kedekatan” dalam surat Qaaf ayat 16, kedekatan yang lebih tepat adalah kedekatan para malaikat bukan kedekatan ilmu Allah. Alasannya adalah: Pertama: Melihat kelanjutan surat Qaaf ayat 16 yang membicarakan tentang malaikat.[4] Selengkapnya Allah Ta’ala berfirman, (QS. Qaaf: 16-18) yang berbunyi:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ, إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
Konteks ayat ini membicarakan tentang malaikat. Kedua: Yang dimaksudkan “al insan (manusia)” dalam surat Qaaf ayat 16 adalah umum, baik mukmin ataupun kafir. Jika kita menyatakan yang dimaksudkan dalam ayat itu adalah kedekatan Allah, maka ini sangat bertentangan. Kedekatan Allah tidak mungkin pada orang kafir. Kedekatan Allah hanya pada orang beriman saja. Sehingga yang lebih tepat kita katakan, maksud ayat ini adalah kedekatan para malaikat.[5]
Contoh ayat yang semisal. Sama-sama menggunakan kata ‘Kami (nahnu)’, namun yang dimaksudkan adalah kedekatan malaikat. Contohnya firman Allah Ta’ala, QS. Al Qiyamah: 16-17yang berbunyi:
75_17.png75_16.png
Artinya:
 “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.”
Yang dimaksud dengan “Kami” di sini adalah Malaikat Jibril. Allah menyandarkan perbuatan Jibril pada diri-Nya karena Jibril adalah utusan-Nya. Sebagaimana dalam surat Qaaf ayat 16 Allah menyandarkan kedekatan malaikat pada diri-Nya karena malaikat adalah utusan-Nya. Hal itu dibuktikan dalam Qs. Az-Zuhruh ayat 84 yang berbunyi:

43_84.png
Artinya:
 “Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.”
Sehingga pendapat yang lebih tepat, yang dimaksud kedekatan dalam ayat tersebut adalah kedekatan malaikat sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[6] Begitu pula jika kita temukan dalam ayat lainnya yang menyebutkan kedekatan secara umum (mencakup mukmin dan kafir), maka yang dimaksudkan adalah kedekatan para Malaikat.[7]
Kedekatan Allah di sini hanya dalam beberapa keadaan. Contoh kedekatan Allah adalah: Pertama, Ketika berdo’a. Sebagaimana hal ini terdapat dalam QS. Al Baqarah: 186 yang berbunyi:
2_186.png 
Artinya:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Begitu juga terdapat dalil dalam Shohih Muslim pada Bab ‘Dianjurkannya merendahkan suara ketika berdzikir’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ وَالَّذِى أَحَدِكُمْ
Artinya:
“Yang kalian seru adalah Rabb yang lebih dekat pada salah seorang di antara kalian daripada urat leher unta tunggangan kalian.”[8]
Kedua: Ketika sujud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Tempat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.”[9]
Jadi kedekatan Allah adalah ketika seorang mukmin beribadah dan ketika seorang mukmin berdo’a. Adapun kedekatan secara umum adalah kedekatan para malaikat, sebagaimana pendapat yang lebih kuat.[10]
Di antara akibat salah memahami kedekatan surat Qaaf ayat 16 tersebut adalah berkeyakinan Allah menyatu dengan makhluk atau Allah berada dalam makhluk. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Hal ini berbeda dengan pemahaman orang yang menyimpang. Mereka menyangka bahwa Tuhan mereka bercampur dengan darah dan daging manusia. Akibatnya mereka pun menyatakan bahwa manusia tidaklah semata-mata disebut makhluk. Mereka mengatakan bahwa Pencipta dan makhluk itu satu. Menurut sangkaan keliru mereka, Allah sebagai sesembahan berada di dalam dan luar urat leher manusia. Jadi menurut mereka, Allah itu bercampur dengan makhluk.[11] Maha Suci Allah dari sangkaan buruk mereka.
Walaupun dalam pembahasan kali ini kami membahas kedekatan Allah, namun sekali lagi jangan dipahami bahwa maksud kedekatan di sini melazimkan Allah ada di mana-mana sebagaimana anggapan sebagian orang yang salah kaprah. Tidak ada satu pun ulama Ahlus Sunnah yang berjalan di atas kebenaran yang menyatakan seperti itu. Allah tetap berada di atas langit sesuai dengan sifat yang layak bagi-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas ‘Arsy, terpisah dengan makhluk-Nya. Keyakinan inilah yang menjadi konsensus (ijma’) para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.[12]
Dalil-dalil yang mendukung keberadaan Allah di atas seluruh makhluk-Nya amatlah banyak, sampai-sampai ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa ada 1000 dalil yang mendukung hal ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sebagian ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa dalam Al Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan Allah itu berada di ketinggian di atas makhluk-makhluk-Nya. Sebagian mereka mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini.”[13]
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya adalah: Pertama: Ayat tegas yang menyatakan Allah beristiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy. ‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi dan paling besar.
Contoh ayat tersebut adalah QS. Thaha: 5 yang berbunyi:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Artinya:
“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy .”
Kedua: Dalil yang menanyakan di manakah Allah. Seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang budak, “Di mana Allah?” Budak itu menjawab,  “Di atas langit.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapa saya?” Budak tersebut menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.” (HR. Muslim)
Adz Dzahabi mengatakan, “Inilah pendapat kami bahwa siapa saja yang ditanyakan di mana Allah, maka akan dibayangkan dengan fitrohnya bahwa Allah di atas langit. Jadi dalam riwayat ini ada dua permasalahan: [1] Diperbolehkannya seseorang menanyakan, “Di manakah Allah?” dan [2] Orang yang ditanya harus menjawab, “Di atas langit”.” Lantas Adz Dzahabi mengatakan, “Barangsiapa mengingkari dua permasalah ini berarti dia telah menyalahkan Musthofa (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[14]
Ketiga: Dalil yang menyatakan bahwa Allah menceritakan mengenai Fir’aun yang ingin menggunakan tangga ke arah langit agar dapat melihat Tuhannya Musa. Lalu Fir’aun mengingkari keyakinan Musa mengenai keberadaan Allah di atas langit. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al Mu’min: 36-37 yang berbunyi:
tulisan-arab-alquran-surat-al-mumin-ayat-36-37.jpg
Artinya:
Dan Fir'aun berkata, "Wahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhannya Musa, tetapi aku tetap memandangnya sebagai seorang pendusta.” Dan demikianlah dijadikan terasa indah bagi Fir'aun perbuatan buruknya itu, dan dia tertutup dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian"
Abil ‘Izz mengatakan, “Mereka jahmiyah yang mendustakan ketinggian Dzat Allah di atas langit, mereka itu termasuk pengikut Fir’aun. Sedangkan yang menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa dan pengikut Muhammad.”[15]
Begitu pula empat imam madzhab bersepakat mengenai hal ini. Bahkan keyakinan ini adalah keyakinan semua nabi. Syaikh Abdul Qodir Al Jailani mengatakan, “Keyakinan bahwa Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya telah disebutkan dalam setiap kitab suci yang Allah turunkan pada para nabi.”[16]
Memang Betul Ilmu Allah Di Mana-Mana, Namun Bukan Dzat Allah. Jika dikatakan ilmu Allah di mana-mana, itu memang benar. Namun jika dikatakan bahwa Dzat Allah ada di mana-mana, maka perkataan seperti ini berarti telah mendustakan 1000 dalil dalam Al Qur’an. Lihatlah perkataan imam madzhab dan para ulama.
Abdullah bin Nafi’ berkata bahwa Malik bin Anas mengatakan, “Allah berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu tidaklah lepas dari ilmu-Nya.”[17]
Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanyakan, “Apakah Allah ‘azza wa jalla berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, sedangkan kemampuan dan ilmu-Nya di setiap tempat (di mana-mana)?” Imam Ahmad pun menjawab, “Betul sekali. Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, namun setiap tempat tidaklah lepas dari ilmu-Nya".[18]
Dari ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, dia berkata, “Aku berkata kepada Abdullah bin Al Mubarok, bagaimana kita mengenal Rabb kita ‘azza wa jalla. Ibnul Mubarok menjawab, “Rabb kita berada di atas langit ketujuh dan di atasnya adalah ‘Arsy. Tidak boleh kita mengatakan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah berada di sini yaitu di muka bumi.” Kemudian ada yang menanyakan tentang pendapat Imam Ahmad bin Hambal mengenai hal ini. Ibnul Mubarok menjawab, “Begitulah Imam Ahmad sependapat dengan kami.”[19]




1.5  Tafsir Ulama Mengenai Qs. Al- Haqqah ayat 45-46
Menurut suatu pendapat, makna ayat ialah niscaya Kami hokum dia dengan tangan kanan Kami. Dikatakan demikian karena pukulan yang dilakukan olehnya jauh lebih keras. Menurut pandangan ulama yang lainnya lagi mengatakan, niscaya benar-benar Kami pegang dia dengan tangan kanannya.[20]
Ibnu Abbas mengatakan bahwa al-wafin artinya urat tali jantungnya. Hal yang semisal dikatakan oleh Ikrimah, Said Ibnu Jubair, Al-Hakam, Qatadah, Ad-Dahhak, Muslim Al-Batin, dan Abu Sahkr alias Humaid Ibnu Ziad. Menurut Muhammad Ibnu Ka'b, makna yang dimaksud ialah jantung dan semua uratnya serta semua bagian yang dekat dengannya. [21]
1.6  Tafsir dan Pendapat Ulama Mengenai Hadits dengan kata "Qalbu"
Mungkin penting untuk diketahui disini, bahwa kata “heart” dalam dunia kedokteran berarti jantung, bukan hati. Adapun “hati” dalam kedokteran adalah liver. Karena itu kata ?qalb? dalam bahasa Arab, diterjemahkan oleh penulis paper tersebut menjadi “heart”, yang dalam bahasa Indonesia berarti jantung.[22] Jantung disebutkan beberapa kali di Al-Qur’an dan hadits. Perbedaan keadaan jantung (seringkali kata “heart” diartikan sebagai “hati” dalam teks Indonesia) digambarkan di Al-Qur’an menjadi tiga: keadaan jantung orang mukminin, kafirun, dan munafiqun. Orang-orang mukminin digambarkan memiliki jantung yang hidup, orang kafir memiliki jantung yang mati, sedangkan orang munafik memiliki jantung yang sakit. Dua tipe jantung yang  dijelaskan dalam Al-Qur’an yaitu jantung secara spiritual dan fisik.
Para ulama menyatakan terdapat 2 tipe dari jantung spiritual: syubhat (keragu-raguan karena suatu hal yang dalilnya masih dalam pembicaraan atau masih ada perselisihan, maka lebih baik menghindari hal tersebut sebagai bentuk kehati-hatian) dan syahwat/nafsu yang ketika berlebihan maka akan membawa keburukan. Emosi, tingkah laku, pengetahuan, penyakit, keinginan, kejujuran, aksi dan reaksi semuanya berakar pada jantung. Dengan demikian, peranan jantung di dalam Islam tidak hanya dipandang secara fisiologi tetapi juga dari sisi psikologi.
Al-Qur’an dan hadits menganalogikan jantung sebagai pengatur emosi sehingga menjadikan jantung memiliki banyak karakteristik yang pada kedokteran modern dianggap berasal dari otak. Selain memandang jantung dari sisi psikologis, Islam juga memandang jantung dari segi anatomis dan fisiologis. Seperti dalam hadits di atas. Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa ternyata jantung merupakan kumpulan otot (segumpal daging) dan bukannya cair seperti darah ataupun padat dan keras seperti tulang.[23]
1.7  Integrasi Sistem Peredaran Darah dalam Al-Qur'an
Dalam sejarah Kristen di abad pertengahan dan masa Renaissance, pengaruh gereja Kristen melumpuhkan perkembangan sains, bahkan jika pengamatan sains di era kejayaan Islam berkembang luas itu disebabkan ajaran Islam mendorong dan mendukung riset sains.[24] Selain itu, dalam Islam pencarian ilmu pengetahuan merupakan bagian dari ibadah kepada Allah dan merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam, seperti dalam hadits berikut:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

Artinya :
”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)
Kemajuan ilmu kedokteran saat ini nampaknya melupakan kontribusi dari sejumlah teks-teks agama, salah satunya al-Qur'an dan hadits. Pada sebuah tulisan disebutkan mengenai deskripsi yang akurat mengenai struktur anatomi, prosedur bedah, karakteristik fisiologis dan medis. Artikel ini hanya sebagian kecil dari luasnya ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan sistem peredaran darah ini, khususnya jantung dan pembuluh darah (alat-alat yang berkaitan dengan peredaran darah).
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa kata "heart" dalam dunia biologi dan kedokteran berarti jantung bukan hati. Adapun "hati" secara anatomi yaitu liver. Karena kata "qalb" dalam bahasa arab yang bila diterjemahkan menjadi "heart" yang berarti jantung.
 Berkenaan dengan sistem perdaran darah dan jantung ini sudah terlebih dahulu dijelaskan Allah dalam Qs. Al-Qaaf ayat 16 yang berbunyi:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya:
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Al-Qur'an memang bukanlah kitab sains, melainkan petunjuk bagi orang-orang yang beriman, apapun yang tertulis di dalam al-Qur'an pastilah benar dan tidak ada keraguan di dalmnya. Namun di dalam al-Qur'an terdapat makna yang tersurat dan tersirat. Jika makna tersurat maka sudah pasti semua orang bisa membaca dan memahaminya. Apabila terdapat makna yang tersirat, diperlukan gabungan dari berbagai disiplin ilmu untuk menafsirkannya.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, telah ditulis tafsir tematik yang berkaitan dengan ilmu-ilmu tertentu untuk mempermudah dalam mempelajarinya, khususnya ilmu sains.Dewasa ini telah banyak ditemukan hasil penelitian sains modern yang sesuai dengan apa yang diisyaratkan al-Qur'an. Seperti ayat di atas yang berhubungan dengan sistem peredaran darah.
1.      Pembuluh darah
Dari ayat di atas (Qs. A;-Qaaf ayat 16) apabila dilihat secara anatomi, urat leher yang dimaksud dalam ayat tersebut yaitu vena jugular. Yang mana vena jugular ini membawa darah dari bagian kepala (otak, kranium/tempurung kepala, dan wajah) dan leher untuk kembali ke jantung, jadi dapat disimpulkan bahwa pembuluh ini sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.
download.jpg
Gambar 1. Merupakan gambar letak vena jugular (urat leher) secara anatomi
Pembuluh darah besar lainnya yang disebutkan dalam al-Qur'an ialah al-Aatiin (aorta). Aorta merupakan pembuluh darah besar yang mengalirkan darah langsung dari jantung untuk dialirkan ke seluruh tubuh. Dalam Qs. Al-Haqqah ayat 45-46 berbunyi:
69_46.png69_45.png



Artinya:
"Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya."
Aorta memiliki aliran darah yang cepat karena tekanannya langsung berasal dari kontraksi jantung, selain itu volume darahnya masih sangat banyak (hanya punya percabangan kecil yaitu koroner) oleh karena iu ketika aorta dipotong maka konsekuensinya dlah terjadinya pendarahan hebat yang mengakibatkan kematian.[25]
Ayat ini lebih kurang menjelaskan mengenai dua hal, yang pertama yaitu darah merupakan 'kendaraan' untuk dapat hidup, dan yang kedua yaitu arteri yang langsung berasal dari jantung (aorta) penting untuk mempertahankan kehidupan.[26]
aorta.png
Gambar 2. Gambar aorta (Urat tali jantung)
2.      Jantung
Jantung disebutkan beberapa kali di Al-Qur’an dan hadits. Perbedaan keadaan jantung (seringkali kata “heart” diartikan sebagai “hati” dalam teks Indonesia) digambarkan di Al-Qur’an menjadi tiga: keadaan jantung orang mukminin, kafirun, dan munafiqun. Orang-orang mukminin digambarkan memiliki jantung yang hidup,[27] orang kafir memiliki jantung yang mati, sedangkan orang munafik memiliki jantung yang sakit.[28]
image046.jpg
Gambar 3. Gambar jantung secara anatomi
Jantung (bahasa Latin: cor) adalah sebuah rongga, rongga organ berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang. Istilah kardiak berarti berhubungan dengan jantung, dari kata  Yunani  cardia  untuk  jantung. Jantung adalah salah satu organ manusia yang berperan dalam sistem peredaran darah.[29]
Jantung terletak dalam rongga dada agak sebelah kiri, di antara paru-paru kanan dan paru-paru kiri. Massanya kurang lebih 300 gram, besarnya sebesar kepalan tangan. Jantung adalah satu otot tunggal yang terdiri dari lapisan endothelium. Jantung terletak di dalam rongga torakik, di balik tulang dada. Struktur jantung berbelok ke bawah dan sedikit ke arah kiri. Jantung hampir sepenuhnya diselubungi oleh paru-paru, namun tertutup oleh selaput ganda yang bernama perikardium, yang tertempel pada diafragma. Lapisan pertama menempel sangat erat kepada jantung, sedangkan lapisan luarnya lebih longgar dan berair, untuk menghindari gesekan antar organ dalam tubuh yang terjadi karena gerakan memompa konstan jantung. Jantung dijaga di tempatnya oleh pembuluh-pembuluh darah yang meliputi daerah jantung yang merata/datar, seperti di dasar dan di samping. Dua garis pembelah (terbentuk dari otot) pada lapisan luar jantung menunjukkan di mana dinding pemisah di antara serambidan bilik jantung.[30]
Secara internal, jantung dipisahkan oleh sebuah lapisan otot menjadi dua belah bagian, dari atas ke bawah, menjadi dua pompa. Kedua pompa ini sejak lahir tidak pernah tersambung. Belahan ini terdiri dari dua rongga yang dipisahkan oleh dinding jantung. Maka dapat disimpulkan bahwa jantung terdiri dari empat rongga, serambi kanan & kiri dan bilik kanan & kiri.[31]
Dinding serambi jauh lebih tipis dibandingkan dinding bilik karena bilik harus melawan gaya gravitasi bumi untuk memompa dari bawah ke atas dan memerlukan gaya yang lebih besar untuk mensuplai peredaran darah besar, khususnya pembuluh aorta, untuk memompa ke seluruh bagian tubuh yang memiliki pembuluh darah.[32]
Tiap serambi dan bilik pada masing-masing belahan jantung disambungkan oleh sebuah katup. Katup di antara serambi kanan dan bilik kanan disebut katup trikuspidalis atau katup berdaun tiga. Sedangkan katup yang ada di antara serambi kiri dan bilik kiri disebut katup mitralis atau katup bikuspidalis (katup berdaun dua).
Pada saat berdenyut setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (disebut diastol). Selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung (disebut sistol). Kedua serambi mengendur dan berkontraksi secara bersamaan, dan kedua bilik juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan.
Darah yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbondioksida (darah kotor) dari seluruh tubuh mengalir melalui dua vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam atrium kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, ia akan mendorong darah ke dalam ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis.
Darah dari ventrikel kanan akan dipompa melalui katup pulmoner ke dalam arteri pulmonalis menuju ke paru-paru. Darah akan mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (pembuluh kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru, menyerap oksigen, melepaskan karbondioksida dan selanjutnya dialirkan kembali ke jantung.[33]
Darah yang kaya akan oksigen mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke atrium kiri. Peredaran darah di antara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebutsirkulasi pulmoner karena darah dialirkan ke paru-paru.
Darah dalam atrium kiri akan didorong menuju ventrikel kiri melalui katup bikuspidalis/mitral, yang selanjutnya akan memompa darah bersih ini melewati katup aorta masuk ke dalam aorta (arteri terbesar dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini disirkulasikan ke seluruh tubuh, kecuali paru-paru. dan sebagainya.
3.      Darah
Dalam al-Qur'an biasanya dijelaskan keharaman memakan darah, seperti dalam Qs. Al-Baqarah ayat 173 yang berbunyi:
2_173.gif
Artinya:
“ Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah dan daging babi dan (daging)  hewan yang disembelih dengan ( menyebut nama ) selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa ( memakannya ) bukan karena  menginginkannya  dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah.
Pada serangga, darah (atau lebih dikenal sebagai hemolimfe) tidak terlibat dalam peredaran oksigen. Oksigen pada serangga diedarkan melalui sistem trakea berupa saluran-saluran yang menyalurkan udara secara langsung ke jaringan tubuh. Darah serangga mengangkut zat ke jaringan tubuh dan menyingkirkan bahan sisa metabolisme.
Pada hewan lain, fungsi utama darah ialah mengangkut oksigen dari paru-paru atau insang ke jaringan tubuh. Dalam darah terkandung hemoglobin yang berfungsi sebagai pengikat oksigen. Pada sebagian hewan tak bertulang belakang atauinvertebrata yang berukuran kecil, oksigen langsung meresap ke dalam plasma darah karena protein pembawa oksigennya terlarut secara bebas. Hemoglobin merupakan protein pengangkut oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan-hewan bertulang belakang atau vertebrata. Hemosianin, yang berwarna biru, mengandung tembaga, dan digunakan oleh hewancrustaceae. Cumi-cumi menggunakan vanadium kromagen (berwarna hijau muda, biru, atau kuning oranye).[34]
Darah manusia adalah cairan di dalam tubuh yang berfungsi untuk mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah.[35]
Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung  besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen.
Manusia memiliki sistem peredaran darah tertutup yang berarti darah mengalir dalam pembuluh darah dan disirkulasikan oleh jantung. Darah dipompa oleh jantung menuju paru-paru untuk melepaskan sisa metabolisme berupa karbon dioksida dan menyerap oksigen melalui pembuluharteri pulmonalis, lalu dibawa kembali ke jantung melalui vena pulmonalis. Setelah itu darah dikirimkan ke seluruh tubuh oleh saluran pembuluh darah aorta. Darah membawa oksigen ke seluruh tubuh melalui saluran halus darah yang disebut pembuluh kapiler. Darah kemudian kembali kejantung melalui pembuluh darah vena cava superior dan vena cava inferior. Darah juga mengangkut bahan bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan dibawa ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni.[36]
Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45% bagian dari darah, angka ini dinyatakan dalam nilai hermatokrit atau volume sel darah merah yang dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47. Bagian 55% yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang disebut plasma darah.
Korpuskula darah terdiri dari:[37]
1.      Sel darah merah atau eritrosit (sekitar 99%).
Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan eritrosit akan menderita penyakit anemia.
2.      Keping-keping darah atau trombosit (0,6 - 1,0%)
Trombosit bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah.
3.      Sel darah putih atau leukosit (0,2%)
Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh tubuh, misal virus atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki bentuk yang tetap. Orang yang kelebihan leukosit akan menderita penyakit leukimia, sedangkan orang yang kekurangan leukosit akan menderita penyakit leukopenia.
4.      Susunan Darah. serum darah atau plasma terdiri atas:
1.      Air: 91,0%
2.      Protein: 8,0% (Albumin, globulin, protrombin dan fibrinogen)
3.      Mineral: 0.9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam dari kalsium, fosfor, , kalium dan zat besi,nitrogen, dll)
4.      Garam
5.    Plasma darah pada dasarnya adalah larutan air yang mengandung :
·             albumin
·             bahan pembeku darah
·             immunoglobin (antibodi)
·             hormon
·             berbagai jenis protein
·             berbagai jenis garam
Demikian juga dengan darah Hewan, juga mengandung:air, protein (Albumin, globulin, protrombin dan fibrinogen),mineral (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam darikalsium, fosfor, , kalium dan zat besi,nitrogen, dll).[38]
PEMBULUH DARAH.jpgvaehntyk.png
Gambar 4. Jenis-jenis darah                Gambar 5. Gambar komposisi darah
4.      Sistem Peredaran Darah
Peredaran darah pada manusia disebut peredaran darah tertutup karena darah mengalir dalam pembuluh darah. Sistem peredaran darah pumonalis disebut juga peredaran darah kecil. Darah dari seluruh tubuh yang kaya akan karbondioksida masuk ke atrium kanan. Dari atrium kanan darah mengalir ke ventikel kanan. Selanjutnya, ventrikel berkontraksi hingga katup trikuspidalis tertutup, tetapi memaksa katup pulmonalis yang terletak pada lubang masuk arteri pulmonalis terbuka. Arteri yang bercabang ke kiri dan bercabang membentuk arter kanan menuju paru-paru. Arteri bercabang membentuk arteriol. Arteriol mengalirkan darah ke kapiler ke dalam paru-paru. Di sini lah darah melepas karbondioksida dan mengambil oksigen. Vena pulmonalis membawa darah kaya oksigen ke atrium kiri. Sedangkan sistem peredaran darah sistematik atau peredaran darah besar cara kerjanya sebaliknya.[39]
Peredaran darah besar jantung
vertikel kiri       seluruh jaringan tubuh             jantung (atrium kanan)
Peredaran darah kecil jantung
vertikel kanan              paru-paru         jantung (atrium kiri)
SIRKULASI DARAH REPTILIA.jpg
Gambar 6. Sistem peredaran darah
a.       Sistem Limfatik
Sistem limfatik memiliki tiga fungsi:[40]
1)      Mengalirkan cairan interstitial. Pembuluh limfatik mengalirkan kelebihan cairan interstitial yang berasal dari ruang antar sel.
2)      Menstranspor lemak dari makanan.
3)      Memfasilitasi reaksi imun. Jaringan limfatik membangkitkan reaksi spesifik yang sangat tinggi terhadap mikroorganisme tertentu atau sel yang abnormal.
b.   Pembuluh Limfatik
Kapiler limfatik adalah suatu saluran dengan ujung tertutup yang terletak pada ruang antar sel . Kapiler limfatik terdapat diseluruh tubuh kecuali di jaringan yang tidak berpembuluh seperti tulang dan kornea mata.
Pad usus halus kapiler limfatik mengalami spesialisasi yang disebut lacteal.
Jaringan dan Organ Limfatik:[41]
1)    Sumsum tulang merah terdapat didalam tulang pipih dan epifise tulang pipa pada orang dewasa. Sumsum tulang merah merupakan tempat pembentukan limfosit.
2)   Kelenjar timus memiliki dua lobus yang terletak di bagian atas tulang dada , tiap lobus terdiri atas bagian korteks dan medulla. Korteks tersusun atas sel limfosit dan epitel. Medula tersusun atas sel epitel. Kelenjar timus memproduksi hormone yang berfungsi dalam pematangan sel limfosit T.
3)   Nodus limfe , sekitar 600 organ yang berbentuk seperti kacang dan terletak disepanjang pembuluh limfe. Nodus limfe mengandung sel limfosit B dan T yang berfungsi dalam menghancurkan berbagai senyawa dan se lasing. Nodus limfe juga berfungsi menyaring cairan limfe yang mengalir dalam pembuluh limfatik saat cairan limfe melewati nodus limfe.
4)    Limpa , berbentuk oval, jaringan limfatik terbesar didalam tubuh, panjang sekitar 12cm , terletak diantara perut dan diafragma. Terdiridari pulpa putih dan pulpa merah. Pulpa putih mengandung limfosit dan makrofag. Pulpa merah mengandung pembuluh darah.
5)   Nodulus limfatikus, merupakan sekumpulan jaringan limfatik terpanjang di jaringan ikat yang terdapat pada membrane mucus yang membatasi dinding saluran pencernaan, saluran reproduksi, saluran urin dan saluran respirasi. Bentuknya tonsil dan folikel limfatik. Tosil terdapat di tenggorokan , folikel limfatik terdapat di permukaan dinding usus halus.









[1] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Ibrahim Bajis, terbitan Muassasah Ar Risalah,cetakan kedelapan, tahun 1419 H.
[3]Lihat Majmu’ Al Fatawa, 5/502, Darul Wafa’,  cetakan ketiga 1426 H
[4] Lihat Majmu’ Al Fatawa, 5/504-505. Lihat pula penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ketika menjelaskan surat Qaaf ayat 16 dalam Tafsir Al ‘Allamah Muhammad Al ‘Utsaimin, 8/15, Asy Syamilah
[5] Lihat Tafsir Al ‘Allamah Muhammad Al ‘Utsaimin, 8/15
[6] Lihat Tafsir Al ‘Allamah Muhammad Al ‘Utsaimin, 8/15-16
[7] Lihat Tafsir Al ‘Allamah Muhammad Al ‘Utsaimin, 8/16
[8] HR. Muslim no 2704, dari Abu Musa
[9] HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah
[10] Lihat Tafsir Al ‘Allamah Muhammad Al ‘Utsaimin, 8/16
[11] Lihat Majmu’ Al Fatawa, 5/501
[12] Lihat Majmu’ Al Fatawa, 5/501
[13] Majmu’ Al Fatawa, 5/121
[14] Mukhtashor Al ‘Uluw, Syaikh Al Albani, Adz Dzahabiy, Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 81, Al Maktab Al Islamiy, cetakan kedua, 1412 H
[15] Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, Ibnu Abil ‘Izz Ad Dimasyqi , Dita’liq oleh Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth, 2/441, Mu’assasah Ar Risalah, cetakan kedua, 1421 H
[16] Fathu Robbil Bariyyah bi Talkhishil Hamawiyyah, Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, hal. 33, Darul Atsar, cetakan pertama, 2002
[17] Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, Adz Dzahabiy, hal. 138, Asy Syamilah
[18] Lihat Itsbat Sifatil ‘Uluw, Abdullah bin Ahmad bin Qudamah Al Maqdisy, hal. 116, Asy Syamilah
[19] Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, 139. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shohih

[25] Syamsuri, Istamar dkk. 2007. Biologi 2A. Malang: Erlangga
[26] Syamsuri, Istamar dkk. 2007. Biologi 2A. Malang: Erlangga
[30] Campbel, Neil  A. et al. 2010. BIOLOGI jilid 1. Jakarta: Erlangga
[31] Campbel, Neil  A. et al. 2010. BIOLOGI jilid 1. Jakarta: Erlangga
[32] Campbel, Neil  A. et al. 2010. BIOLOGI jilid 1. Jakarta: Erlangga
[35] Aryulina, Diah, Choirul Muslim, Syalfinaf Manaf dan Endang Widi Winarni. 2007.Biologi 2. Jakarta: Esis
[36] Priadi, Arif. 2012. Biologi. Jakarta: Yudhistira.
[39] Aryulina, Diah, Choirul Muslim, Syalfinaf Manaf dan Endang Widi Winarni. 2007.Biologi 2. Jakarta: Esis
[40] Pratiwi, D.A., Sri Maryati, Suharto dan Bambang S. 2012. Biologi. Jakarta: Erlangga.
[41] Pratiwi, D.A., Sri Maryati, Suharto dan Bambang S. 2012. Biologi. Jakarta: Erlangga.

1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum wr.wb...blog yg isinya bagus dan sangat bermanfaat, sayang backgroundnya sangat tidak islami..sepasang kekasih yng maaf wanitanya pakai pakaian yg bertentangan dengan al qur'an..

    BalasHapus