BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Al-qur`an
diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia ke arah yang terang dan jalan
yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang didasarkan pada keimanan
kepada Allah SWT dan risalah-risalah-Nya. Dimana tempat diturunkannya al-Qur’an
itu berbeda sehingga hal itu menyebabkan kita membedakan Al-Qur’an dari segi
tempat turunnya. Seperti yang kita ketahui, Al-Qur’an berdasarkan tempat
turunnya itu dibedakan menjadi 2, yakni Makkiyah dan Madaniyah.
Para ulama antusias untuk
menyelidiki surat-surat Makkiyah dan Madaniyah. Mereka meneliti ayat demi ayat
dan surat demi surat untuk ditertibkan sesuai dengan turunnya, dengan
memperhatikan waktu, tempat, dan pola kalimat. Lebih dari itu, mereka
mengumpulkan antara waktu, tempat, dan pola kalimat. Cara demikian merupakan
suatu kecermatan yang memberikan kepada peneliti gambaran mengenai kebenaran
ilmiah tentang ilmu Makkiyah dan Madaniyah.[1]
Surat Makkiyyah adalah
ayat–ayat yang di turunkan di Makkah selama 12 tahun 5 bulan 13 hari, terhitung
sejak tanggal 17 Ramadhan tahun ke-14 dari kelahiran Nabi (6 Agustus 610 M)
sampai tanggal 1 Rabi’ul Awwal tahun ke-54 dari kelahiran Nabi. Sedangkan Surat
Madaniyyah adalah ayat-ayat yang di turunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke
Madinah selama 9 tahun 9 bulan 9 hari, terhitung sejak Nabi hijrah ke Madinah
sampai tanggal 9 Dzulhijjah tahun 63 dari kelahiran Nabi. Sedangkan menurut
Abdurrahman bin Ibrahim Al-Fauzan Surah Makkiyah yaitu surah-surah yang turun/
datang sebelum adanya perintah hijrah ke Madinah, meski turunnya diluar di luar
kota Makkah, adapun Surah-surah Madaniyah yaitu surah-surah yang turun /datang
sesudah adanya perintah hijrah, meski turunnya di dalam kota Makkah.[2]
Dari uraian diatas
dapat kita angkat suatu permasalahan tentang Ilmu Makky dan al- Madany yang
meliputi antara lain : Pengertian al-Makky dan al-Madany, Urgensi Ilmu al-Makky
dan al-Madany, karakteristik al-Makky dan al-Madany, dll. yang akan dibahas
dalam makalah ini.
1.2
Rumusan
Masalah
Rumusan
masalah yang terdapat dalam makalah ini adalah:
1. Apa
definisi dan bagaimana penentuan al Makky dan al Madany?
2. Bagaimana
klasifikasi al Makky dan al Madany?
3. Apa
saja karakteristik al Makky dan al Madany?
4. Apa
urgensi ilmu al Makky dan al Madany?
5. Apa
saja faedah Surat Makkiyah dan Madaniyah?
1.3
Tujuan
Tujuan
yang ditulisnya makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui definisi dan penentuan al Makky dan al Madany
2. Untuk
mengetahui klasifikasi al Makky dan al Madany
3. Untuk
mengetahui karakteristik al Makky dan al Madany
4. Untuk
mengetahui urgensi ilmu al Makky dan al Madany
5.
Untuk mengetahui faedah
Surat Makkiyah dan Madaniyah
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1 Definisi dan
Penentuan al Makky dan al Madany
Adapun dasar yang dapat menentukan sesuatu
surah itu Makkiyah atau Madaniyah, ada dua hal, yaitu:[3]
1.
Dasar aghlabiyah (mayoritas), yakni kalau sesuatu surah itu mayoritas atau
kebanyakan ayat-ayatnya adalah Makkiyah, maka disebut sebagai surah Makkiyah.
Sebaliknya, jika yang terbanyak ayat-ayat dalam sesuatu surah itu adalah
Madaniyah atau diturunkan setelah Nabi hijrah ke Madinah, maka surah tersebut
disebut sebagai surah Madaniyah.
2.
Dasar taba’iyah (kontinuitas), yakni kalau permulaan sesuatu surah itu
didahului dengan ayat-ayat yang turun di Makkah/turun sebelum hijrah, maka
surah tersebut disebut atau berstatus sebagai surah-surah Makkiyah. Begitu pula
sebaliknya jika ayat-ayat pertama dari suatu surah itu diturunkan di Madinah
atau yang berisi hukum-hukum syariat, maka surah tersebut dinamakan sebagi
surah Madaniyah.
Dasar kedua ini didasarkan kepada hadis riwayat ibnu Abbas r.a. :
كَانَتْ إِذَااُنْزِلَتْ فَاتِحَةُ صُوْرَةٍ
بِمَكَّةَ كُتِبَتْ بِمَكَّةَ ثُمَّ يَزِيْدُاللهُ فِيْهَامَايَشَاءُ
Artinya: “Kalau awal
surah itu diturunkan di Makkah, maka dicatat sebagai surah Makkiyah, lalu Allah
menambahkan dalam surah itu ayat-ayat dikehendaki-Nya”.
Ada beberapa definisi tentang Makkiyah
dan Madaniyah yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini disebabkan oleh
berbedanya kriteria yang ditetapkan untuk menetapkan Makkiyah atau Madaniyah
sebuah surat atau ayat.
Adapun kriteria
tersebut diantaranya:
A. Teori
Mulahasah Makan an-Nuzul (Teori Geografis)
“
Makkiyah ialah suatu ayat yang diturunkan di Mekkah, sekalipun sesudah hijrah,
sedang Madaniyah ialah yang diturunkan di Madinah”.
Berdasarkan rumusan di atas, Makkiyah adalah semua surat atau ayat yang dinuzulkan di wilayah Mekkah dan sekitarnya. Sedangkan Madaniyyah adalah semua surat atau ayat yang dinuzulkan di Madinah. Adapun kelemahan pada rumusan ini karena tidak semua ayat Al Quran dimasukkan dalam kelompok Makkiyah atau Madaniyah. Alasannya ada beberapa ayat Al Quran yang dinuzulkan jauh di luar Mekkah dan Madinah. Bahkan, ada sebagian ulama’ yang mendasarkan penentuan Makkiyah atau madaniyah sebuah surat atau ayat berdasarkan masal nuzul surat atau ayat.[4]
Berdasarkan rumusan di atas, Makkiyah adalah semua surat atau ayat yang dinuzulkan di wilayah Mekkah dan sekitarnya. Sedangkan Madaniyyah adalah semua surat atau ayat yang dinuzulkan di Madinah. Adapun kelemahan pada rumusan ini karena tidak semua ayat Al Quran dimasukkan dalam kelompok Makkiyah atau Madaniyah. Alasannya ada beberapa ayat Al Quran yang dinuzulkan jauh di luar Mekkah dan Madinah. Bahkan, ada sebagian ulama’ yang mendasarkan penentuan Makkiyah atau madaniyah sebuah surat atau ayat berdasarkan masal nuzul surat atau ayat.[4]
Ada
juga yang berpendapat bahwa surah Makkiyah adalah yang turun di Mekah dan
sekitarnya, seperti Mina, Arafah dan Hudaibiyah. Dan surah Madaniyah ialah yang
turun di Madani dan sekitarnya seperti Uhud, Quba dan Sili’.
B. Teori
Mulahazah Zaman an-Nuzul (Teori Historis)
Teori ini berorientasi pada sejarah waktu turun ayat
Al-Qur’an. Menurut teori ini ayat Makkiyah adalah ayat atau surah yang turun
sebelum Nabi saw berhijrah. Sedangkan ayat Madaniyah adalah ayat atau surah
yang turun sesudah nabi berhijrah. Teori ini berpegang pada dalil riwayat Abu
Amr Uthman bin za’id ad-Darimi yang di sadarkan pada Yahya bin Salam:
ما نزل بمكة وما نزل في طريق المدينة قبل ايبلغ النبي صل الله عليه وسلم المدينة فهو
من المكي . وما نزل علي النبي صل الله عليه وسلم في اسفره بعدما قدم المدينة فهو
من المدني.
Ayat yang di turunkan di Makkah dan
ayat yang di turunkan dalam perjalan menuju Madinah sebelum Nabi saw tiba di
Madinah, maka ia masuk kata gori ayat Makkiyah. Dan ayat yang di tirunkan pada
Nabi Saw dalam perjalanannya setelah beliau tiba di Madinah, maka ia masuk kata
gori ayat Madaniyah.
Teori ini
banyak pendukungnya, baik dari mayoritas ulama’ klasik, maupun modern, bahkan
dari ulama’ kontemporer saat ini. Kelebihan rumusan teori ini antara lain;
karena mencakup keseluruhan ayat 1 atau surah Al-Qur’an, sehingga dapat di
jadikan ketentuan dan definisi yang memadai. Sedang kelemahanya hanya terletak
pada kejanggalan beberapa ayat atau surah Al-Qur’an yang nyata-nyata turun di
makkah, tetapi karena turun sudah hijrah, lalu di anggap Madaniyah. Seperti Q.S
al-maidah: 3;
اليَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ
وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُم ُالاسْلاَمَ دِيْنًا
Artinya :
Pada hari ini telahku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telahku cukupkan
kepadamu nikmatku, dan telah ki rudhoi islam itu jadi agama bagimu.
Ayat di atas turun pada hari Jum’ah,
di Arofah pada waktu Nabi Saw dan masarakat muslim sedang wukuf. Juga Q.S.an-Nisa';
58;
انَّ اللهَ يَأمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُوا
الاْمَانَاتِ الَى اَهْلِهَا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu
menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
Ayat ini
turun di tengah kota Makkah sewaktu Nabi Saw berada di dalam ka’bah.
C. Teori Mulahazah Mukhatabin fi an-Nuzul (Teori Subjektif)
Teori ini berorientasi pada subjek siapa yang di khitabi
(dituju) oleh ayat al-Qur’an. Menurut teori ini, pengertian Makkiyah adalah
ayat atau surah yang berisi panggilan kepada penduduk Makkah dengan menggunakan
kitab. ياايّهاالناّ س (wahai
manusia), ياايّهاالكا فرون(wahai orang-orang yang ingkar),يابني ادم (wahai anak adam). Dan ayat atau surah
Madaniyah adalah ayat atau surah yang berisi panggilan kepada penduduk Madinah
dengan menggunakan panggilan: يااليها
الذّين اموا (wahai
orang-orang yang beriman).[5]
Teori ini didasarkan atas riwayat Abu Ubaid dari Makmun
bin Mihran dalam kitab Fadail al-Qur’an yang menjelaskan:[6]
ما كان في القران بيا ايهالناس,أويا بني ادم فإ نه مكى,و ما كان بيا ايها
الذين امنوا, فإ نه مدني
Ayat yang memuat
panggilan dengan يا ايهالناس atau يا بني ادمmaka ia termasuk ayat Makki, dan ayat yang menggunakan panggilan dengan
يا
ايها
الذين
امنوا maka ia adalah ayat Madani.
Teori ini di dasarkan
atas riwayat Abu Amr Uthman bin Sa’id al-Darimi yang di dasarkan pada Yahya bin
Salam;[7]
ما كان من القران "يا ايهاالذين امنوا",فهو مدني وم كان "
يا ايهالناس" فهو مكي
Dan ayat yang memuat
panggilan dengan يا ايهاالذين امنوا, maka ia adalah ayat Madani. Dan ayat yang menggunakan
panggilan dengan ياايهالناس,maka ia adalah ayat Makki.
Kelebihan teori ini rumusannya lebih mudah dimengerti,
dan lebih cepat di kenali dengan
kriteria panggilan (nida', khitab) yang khas dari keduanya tersebut. Kelemahan
teori ini juga lebih banyak dari teori-teori yang lain. Setidaknya ada beberapa
kelemahan dari teori ini antara lain.
1.
Rumusan pengertianya tidak dapat
ketentuan, karena tidak dapat mencakup seluruh ayat al-Qur'an. Dari keseluruhan
ayat al-Alqur'an yang berjumlah 6236 ayat,hanya ada 511 ayat yang dimulai
dengan pangggilan ( nida') yang khas Makkiyah berjumlah 292 ayat,dan
yang khas Madaniyah berjumlah 219
ayat.
2.
Rumusan kriterianya
juga tidak dapat berlaku secara menyeluruh .Karena ada beberapa ayat yang
dimulai dengan panggilan (nida') ياايهالناس bukan termasuk ayat Makkiyah.Seperti;
Q.S.al-Baqarah:21; ياايهالناس اعبدوا ربّم
Q.S.an-Nisa': 1; ياايهالناس اتفوا ربكم
Q.S. an-Nisa':133; ان يشأ يذهبكم ياايهالناس
3. Ada pula beberapa ayat
yang dimulai dengan panggilan ( nida', khitab ) ايهاالذين امنوا يا tetapi bukan tergolong
ayat atau surah Madniyah ,tetapi ayat atau surah Makkiyah,misalnya
dalam Q.S.al-Hajj: 77;[8]
يا ايّها الذين امنوا اركعوا واسجدوا واعبدوا ربّكم
وافعلوا الخير لعلّكم تفلحون
Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah
tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.
D. Teori mulahazah ma tadammanah an-nuzul (Teori Content Analysis)
Makkiyah adalah ayat
atau surat yang memuat cerita umat dan para Nabi terdahulu. Sedang ayat atau
surat Madaniyah berisi tentang hukum hudud, faraid, dan sebagainya.[9]
Teori ini
di dasarkan pada riwayat-riwayat sebagai berikut.[10]
1) Riwayat
hisham dari ayahnya, al-hakim
كل سورة ذكرت فيها الحدود والفرائض فهي مدينة
كل سورة ذكرن فيه القرون الماضية فهي
مكية
Semua surah yang memuat
aturan-aturan, ketentuan-ketentuan, maka ia termasuk surah madaniyah, dan semua
surah yang memuat tentang peristiwa masa lampau, maka ia masuk kategori
makkiyah.
2) Riwayat
al-Qomah dari Abdullah;
Yang artinya: Semua surah yang memuat يا أيهاالناس saja, atau كلا atau huruf-huruf Hijaiyah selain dalam dua surah
(al-Baqarah-Ali Imran), ancaman, atau kisah anak Adam dan Iblis selain dalam
al-Baqarah, maka ia masuk kategori Makkiyah. Dan semua surah yang memuat
kisah-kisah para Nabi, bangsa-bangsa terdahulu juga di sebut surah Makkiyah.
Sedang surah yang memuat ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan maka ia di sebut
dengan surah Madaniyah.
Kelebihan teori ini adalah kriterianya jelas,
sehingga mudah difahami dari segi pembicaraannya. Sedang kelemahan teori ini
adalah dari sisi pelaksanaan pembedaan antara Makkiyah dan Madaniyah yang tidak
praktis, karena harus mempelajari isi kandungan di dalam ayat atau surat Al
Quran.
2.2
Klasifikasi Ayat al Makky dan al Madany
Para Ulama begitu tertarik
untuk menyelidiki surah-surah Makki dan Madani. Mereka meneliti Qur’an ayat
demi ayat dan surah demi surah untuk ditertibkan sesuai dengan nuzulnya, dengan
memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat.
Yang terpenting dalam
pengklasifikasian Makki dan Madani terdapat pada poin 1-7, sedangkan poin 8-14
merupakan klasifikasi yang lainnya, yakni sebagai berikut :
1. Yang diturunkan di Madinah:
Ada dua puluh surat
Madaniyyah, yakni al-baqarah, ali imran, an-nisa’, al-maidah, al-anfal,
at-taubah, an-nur, al-ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Hadid,
al-Mujadalah, al-Hasyr, al-Mumthanah, al-Jumu’ah, al-Munafiqun, at-Talaq,
at-Tahrim, dan an-Nasr.[11]
2. Yang diperselisihkan:
Sedang yang masih
diperselisihkan ada dua belas surah, yakni al-Fathihah, ar-Ra’d, ar-Rahman,
as-Saff, at-Taghabun, at-Tatfif, al-Qadar, al-Bayyinah, az-Zalzalah, al-Ikhlas,
al-Falaq, dan an-Nas.
3. Yang diturunkan di Mekkah:
Ada 82 surat sisanya,
jadi jumlah surat-surat Qur’an itu semuanya seratus empat belas surat.
4. Ayat-ayat Makkiyah dalam Surat-surat Madaniyah:
Dengan menamakan sebuah
surat itu Makkiyah atau Madaniyah tidak berarti surah tersebut seluruhnya
Makkiyah atau Madaniyyah, sebab di dalam surat Makkiyah terkadang terdapat
ayat-ayat Madaniyyah, dan di dalam surat Madaniyyah pun terdapat ayat-ayat
Makkiyah. Dengan demikian penamaan surat itu Makkiyah atau Madaniyyah adalah
menurut sebagian besar ayat-ayat yang terkandung didalamnya.
Diantara sekian contoh
ayat-ayat Makkiyah dalam surat Madaniyyah ialah surat al-Anfal, tetapi banyak
ulama mengecualikan Surat: al-Anfal; 30).
Mengenai ayat ini,
Muqatil mengatakan :”Ayat ini diturunkan di Mekkah; dan; pada lahirnya memang
demikian, sebab ia mengandung apa yang dilakukan orang musyrik di Darun Nadwah
ketika mereka merncanakan tipu daya terhadap Rasulullah sebelum hijrah.”
5. Ayat-ayat Madaniyyah dalam surat Makkiyah:
Misalnya adalah surat
Al-an’am .Ibn Abbas berkata ; ‘’ surah ini semuanya diturunkan sekaligus
di Mekkah, maka ia Mekkiah, kecuali tiga ayat dirturunkan di
madinah,yaitu al-An’am ayat 151-153 ; Dan surah al-hajj adalah Makkiyah kecuali
tiga ayat diturunkan di Madinah, dari firman Allah ; ‘’ inilah dua golongan
yang bertengkar mengenai Tuhan mereka....’’ [surat al-Hajj ayat 19-21][12]
6. Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah sedang hukumnya Madani:
Mereka memberi contoh
dengan firman Allah ;
Artinya ;
‘’ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.’’
Ayat ini diturunkan di
Mekkah pada hari penaklukan kota Mekkah, tetapi sebenarnya Madaniyyah karena
diturunkan setelah hijrah; di samping itu seruannya pun bersifat umum. Ayat
seperti ini oleh para ulama tidak dinamakan Makki dan tidak juga dinamakan
Madani secara pasti. Tetapi mereka katakan ‘’ Ayat yang diturunkan di Mekkah
sedang hukumnya Madani’’.
7. Ayat yang diturunkan di Madinah sedang hukumnya Makky:
Mereka memberi contoh
dengan surah mumthahana. Surah ini diturunkan di Madinah dilihat dari segi
tempat turunnya, tetapi seruannya ditujukan kepada orang musyrik penduduk
Mekkah. Juga seperti permulaan surah al-Baqarah yang diturunkan di Madinah,
tetapi seruannya ditujukan kepada orang-orang musyrik penduduk Mekkah.[13]
8. Yang serupa
dengan yang diturunkan di Makkah dalam kelompok Madaniyah
Yang
dimaksud di sini oleh para ulama adalah ayat-atyat yang terdapat dalam surat
Madaniyah tetapi mempunyai gaya bahasa dan ciri-ciri umum seperti surat
Makiyah. Contohnya adalah firman Allah dalam surat Al-Anfal yang Madaniyah,
"Dan ingatlah ketika mereka
golongan musyrik berkata "Ya Allah, jika benar Al-Qur'an ini dari Engkau,
hujankanlah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab
yang pedih." (QS. Al-Anfal:32)"
Hal ini dikarenakan permintaan kaum musyrikin untuk
disegerakan adzab adalah di Makkah.
9. Yang serupa
dengan yang diturunkan di Madinah dalam kelompok Makiyah
Yang
dimaksud para ulama ialah kebalikan dari yang sebelumnya. Mereka memberi contoh
dengan firman Allah dalam surat An-Najm,
"Yaitu mereka yang menjauhi
dosa-dosa besar dan perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil."
(QS. An-Najm:32)
Menurut As-Suyuthi,
perbuatan keji adalah setiap dosa yang ada sanksinya. Dan kesalahan-kesalahan
kecil ialah apa yang terdapat di antara kedua dosa-dosa di atas. Sementara itu
di Makkah belum ada sanksi dan serupa dengannya.
10. Ayat yang
dibawa dari Makkah ke Madinah
Contohnya
ialah surat Al-A'la, HR. Al-Bukhari dari AL-Bara' bin Azib yang mengatakan
"orang yang pertama kali datang kepada kami di kalangan sahabat nabi
adalah Mush'ab bin Umairdan Ibnu Ummi Maktum. Keduanya membacakan Al-Qur'an
kepada kami. Sesudah itu datanglah Ammar, Bilal, dan Sa'ad. Kemudian datang
pula Umar bin Al-Khattab sebagai orang yang kedua puluh. Baru setelah itu
datanglah nabi. Aku melihat penduduk Madinah bergembira setelah aku membaca 'Sabbihisma
rabbikal a'la' dari antara surat yang semisal dengannya."
Pengertian
ini cocok dengan Al-Qur'an yang dibawa oleh golongan Muhajirin, lalu mereka
mengajarkan kepada kaum anshar.
11. Ayat yang
dibawa dari Madinah ke Makkah
Contohnya
dari awal surat Al-Bara'ah, yaitu ketika Rasulullah Shallallahu Alai wa
Sallam memerintahkan kepada Abu Bakar untuk pergi haji pada tahun ke
sembilan. Ketika awal surat Al-Bara'ah trurun, Rasulullah memerintahkan Ai bin
Abi Thalib untuk membawa ayat tersebut kepada Abu Bakar, agar ia sampaikan
kepada kaum musyrikin. Maka Abu Bakar pun membacakannya kepada mereka dan
mengumumkan bahwa tahun ini tidak ada seorang musyrik pun yang bleh berhaji.
12. Ayat yang
turun di waktu malam dan di waktu siang
Kebanyakan ayat Al-Qur'an turun pada siang hari.
Mengenai yang diturunkan pada malam hari, Abul qasim bin Muhammad bin Habib
An-Naisaburi telah menelitinya. Dia memberikan beberapa contoh, di antaranya
adalah bagian-bagian akhir surat Ali-Imran. Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya,
Ibnul Mundzir, Ibnu Mardawaih, dan Ibnu Abi Ad-Dunya, meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu
Anha, bahwa Bilal datang kepada nabi untuk memberitahu waktu shalat subuh.
Tetapi ia melihat Nabi sedang menangis. Ia bertanya, "Wahai Rasulullah,
apakah yang menyebabkan engkau menangis?" Nabi menjawab, "Bagaimana
saya tidak menangis, sementara tadi malam diturunkan kepadaku (ayat), "Sesungguhnya
pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, terdapat
tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal”[14].
Kemudian Beliau bersabda, "Celakalah orang yang membacanya tetapi tidak
mentadabburinya!"
Contoh lain ialah tentang tiga oraang yang tidak ikut
berperang. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan, hadits ka'ab, "Allah
menerima taubat kami pada sepertiga malam yang terakhir".[15]
Contoh lainnya ialah awal surat Al-Fath. Terdapat
dalam Shahih Al-Bukhari, dari hadits Umar, "Telah diturunkan
kepadaku pada malam ini sebuah surat yang lebih aku sukai daripada apa yang
disinari matahari." Kemudian beliau membacakan, "Sesungguhnya
Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata."
13. Ayat yang
turun di musim panas dan musim dingin
Para ulama
memberi contoh ayat yang turun di musim panas dengan ayat tentang kalalah
yang terdapat di akhir surat An-Nisa'. Dalam shahih Muslim, dari Umar,
dikemukakan, "Tidak ada yang sering kutanyakan kepada Rasulullah tentang
sesuatu seperti pertanyaanku mengenai kalalah. Dan beliau pun tidak
pernahbersikap kasar tentang sesuatu urusan seperti sikapnya kepadaku mengenai
soal kalalah ini. Sampai-sampai beliau menekan dadaku dengan jarinya dan
berkata, "Hai Umar, belum cukupkah bagimu satu ayat yang diturunkan
pada musim panas yang terdapat di akhir Surat An-Nisa'?"[16]
Contoh lain
ialah ayat-ayat yang turun dalam perang tabuk. Perang tebuk terjadi pada musim
panas yang berat sekali, seperti yng dinyatakan dalam Al-Qur'an.[17]
Sedangkan
untuk yang turun di musim dingin, mereka contohkan dengan ayat-ayat mengenai
"tuduhan bohong" yang terdapat dalam surat An-Nur, " Sesungguhnya
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga..."
sampai dengan "Bagi mereka ampunkan dan rezeki yang mulia."
(An-Nur:11-26)
HR.
Al-Baihaqi dalam Dala'il An-Nubuwwah, dari Hudzaifah, ia berkata,
"Orang-orang yang meninggalkan Rasulullah pada malam peristiwa Ahzab,
kecuali 12 orang lelaki. Lalu, Rasulullah datang kepadaku, dan berkata,
'Bangkit dan berangkatlah ke medan perang Ahzab!' Aku menjawab, 'Wahai
Rasulullah, demi yang mengutus engkau dengan sebenarnya, aku mematuhi engkau
karena malu, sebab hari dingin sekali.' Lalu turun wahyu Allah 'Wahai orang
yang beriman, ingatlah akan nikmat yang Allah telah karuniakan kepadamu ketika
datang kepadamu tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan
tentara yang tidak dapat kamu lihat. Dan Allah Maha melihat segala yang kamu
kerjakan.'" (Al-Ahzab:9)
14. Yang turun
di waktu menetap dan perjalanan
Mayoritas
ayat-ayat dan surat-surat Al-Qur'an turun pada saat Nabi dalam keadaan menetap.
Akan tetapi, karena kehidupan Rasulullah tidak pernah lepas dari jihad dan
perang di jalan Allah, maka wahyu pun turun juga dalam perjalanan tersebut.
Imam As-Suyuthi menyebutkan banyak contoh ayat yang turun dalam perjalanan. Di
antaranya adalah awal surat Al-Anfal yang turun di Badar setelah selesai
perang, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Sa'ad bin Abi Waqqash.
Sedang ayat,
"Dan orang-orang yang
menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya ke jalan Allah...."
(At-Taubah:34)
Diriwayatkan
Ahmad dari Tsauban, bahwa ayat tersebut turun ketika Rasulullah dalam salah
satu perjalanan.
Juga awal
surat Al-Hajj. At-Tirmidzi dan Al-hakim meriwayatkan dari imran bin Husain yang
menyatakan, "Ketika turun kepada Nabi ayat, 'Wahai manusia, bertakwalah
kepada Tuhanmu; sesungguhnya goncangan Hari Kiamat itu adalah satu kejadian
yang sangat besar... sampai dengan.... tetapi adzab Allah sangat
kerasnya,[18] beliau sedang berada
dalam perjalanan."
Begitu juga
surat Al-Fath. Al-Hakim dan yang lain meriwayatkan, dari Al-Miswar bin
Makhramah dan Marwan bin Al-Hakam, keduanya berkata "Surat Al-Fath dari
awal sampai akhir turun di antra Makkah dan madinah berkaitan masalah
perdamaian Hudaibiyah."
2.3 Karakteristik
al Makky dan al Madany
Ilmu al-makkiyah dan
al-madaniyah termasuk dalam kategori ilmu riwayah. Justru itu, ia tidak akan
dapat dikuasai dan diketahui kecuali melalui riwayat dari sahabat. Karena hanya
merekalah yang menyaksikan turunnya ayat-ayat Al-qur'an kepada Nabi, dalam
suasana, tempat, dan masa tertentu. Atau boleh juga melalui riwayat tabi’n yang
mereka terima dari sahabat.
Ada dua cara yang dapat
digunakan untuk mengetahui ayat al-makkiyah dan al-madaniyyah, yaitu sima’i dan
qiyasi (analogi). Yang pertama adalah berdasarkan penjelasan para sahabat
secara langsung. Hal ini dapat diketahui melalui riwayat yang telah ditulis
oleh para ahli hadits seperti al-kuttub as-sittah, yang terakhir adalah dengan
cara membandingkan tanda-tanda al-makky atau al-madany dengan struktur
ayat yang terdapat dalam surah.
Dari keterangan sahabat Nabi r.a dan tabi'an dalam membangun
teori Makkiyah dan Madaniyah antara lain;
1. Fitur dan
Karakteristik Ayat dan Surah Makkiyah;
a. Dimulai dengan nida' "يا ايها الناس " dan sebagainya
b. Di dalmnya terdapat
lafadz " كلا"
c. Di dalamnya terdapat ayat-ayat sajadah.
d. Di permulaan terdapat
huruf-huruf tahaji ( harf al-muqattaah).
e. Di
dalamnya terdapat cerita-cerita para nabi dan umat terdahulu, selain dalam
Q.S.al-Baqarah. dan Q.S. al-Maidah
f. Di dalamnya terdapat cerita tentang kemusyrikan
g. Di dalamnya terdapat keterangan adat istiadat orang kafir, orang musyrik,
yang suka mencuri, merampok, membunuh, mengubur hidup-hidup anak perempuanya
dan sebagainya.
h. Di dalamnya berisi
penjelasan dengan bukti dan argumentasi tentang konsepsi ketuhanan ( jadal al-Qur'an
)
i. Membuat
prinsip-prinsip moral dan pranata social yang agung,bersifat universal dan
inklusif
j. Memuat
nasehat dan ibarat dalam aneka kisah
k. Berisi
nida' "" يا بني ادم , يا اليهاالناس , يا اليهاالكافرون
l. Kebanyakan
ayat dan surahnya pendek.Karena menggunakan bentuk ijaz ( ringkas, tetapi padat
makna ).
2. Fitur dan Karakteristik Ayat dan Surah Madaniyah;
a. Memuat
Hukum pidana ( hudud ) dalam Q.S. al-Baqarah, Q.S an-Nisa', Q.S. Q.S.
al-Maidah, Q.S. ash-Shura,dan lain sebagainya.
b. Memuat
hukum fara'id ( Q.S.al-Baqarah, Q.S.an-Nisa', Q.S.al-Maidah).
c. Berisi
izin jihad fi sabilillah (Q.S.al-Anfal, Q.S.at-Taubah, Q.S.al-Hajj).
d. Berisi keterangan tentang
karakter orang- orang munafiq ( kecuali Q.S al-Ankabut) dalam Q.S an-Nisa',
Q.S.al-Anfal, Q.S.at-Taubah, Q.S.al-Ahzab, Q.S.al-Fath, Q.S.al-Hadid,
Q.S.al-Munafiqun, Q.S.at-Tahrim.
e. Berisi
Hukum ibadah Q.S. al-Baqarah,Q.S.al-Imran,Q.S.an-Nisa', Q.S.al-Maidah,
Q.S.al-Anfal dan lain-lain.
f. Berisi hukum
muamalah, seperti jual beli, sewa- menyewa, gadai, utang-piutang dan
sebagainya.( Q.S.al-Baqarah, Q.S.al-Imran dll)
g. Berisi
hukum munakahat, baik mengenahi Nikah Cerai Rujuk (NCR ), hadanah ( Q.S.
al-Baqarah, Q.S.al-Imran, Q.S.an-Nisa', Q.S.al-Maidah, dan lain-lain ).
h. Berisi
hukum kemasyarakatan, kenegaraan seperti
permusyawaratan, kedisiplinan, kepemimpinan, pendidikan, pergaulan, dan
sebagainya.
2.4 Urgensi Mengetahui Ilmu
al Makky dan al Madany
1.
Membantu dalam menafsirkan Al-Quran
Dengan mengetahui tempat-tempat
turun ayat dapat membantu untuk memahami ayat dan menafsirkannya. Jika ada
pelajaran yang dapat diambil daripadanya itu berbentuk lafaz umum bukan
dengan menentukan sebab. Orang yang menafsirkannya itu sanggup memberikan penjelasan
ketika terjadi pertentangan makna ketika pada dua ayat, supaya berbeda antra nasikh
dan mansukh. Jika yang belakangan itu nasikh supaya ditempatkan di depan.
2.
Pedoman bagi
langkah-langkah dakwah
Setiap kondisi tentu saja memerlukan ungkapan-ungkapan
yang relevan. Ungkapan-ungkapan dan intonasi berbeda yang digunakan ayat-ayat
Makiyyah dan ayat-ayat Madaniyah memberikan informasi metodologi bagi cara-cara
menyampaikan dakwah agar relevan dengan orang yang diserunya. Oleh karena itu
dakwah Islam berhasil mengetuk hati dan menyembuhkan segala penyakit rohani
orang-orang yang diserunya. Disamping itu, setiap langkah-langkah dakwah
memiliki objek kajian dan metode-metode tertentu, seiring dengan perpedaan
kondisi sosio-kultural manusia. Periodesasi Makkiyah dan Madaniyah telah
memberikan contoh untuk itu.
3. Memberikan
informasi tentang Sirah Kenabian
Penahapan turunnya wahyu seiring dengan perjalanan
dakwah Nabi, baik di Mekah dan Madinah, dimulai sejak diturunkannya wahyu
pertama sampai diturunkannya wahyu terakhir. Dengan demikian Al-Quran adalah
pedoman bagi perjalanan dakwah Nabi yang informasinya tidak diragukan lagi.
Selain dari yang telah diterangkan diatas,
masih banyak sekali hikmah mengetahui Ilmu Makkiyah dan Madaniyah.
Dalam hal ini, al-Zarqani di dalam kitabnya manahil al-’irfan
menerangkan sebagian daripada hikmah ilmu-ilmu ini, diantaranya sebagai berikut[19]:
a.
Dengan ilmu
ini kita dapat membedakan dan mengetahui ayat yang mana yang mansukh dan
nasikh. Yakni apabila terdapat dua ayat atau lebih mengenai suatu
masalah, sedang hukum yang terkandung di dalam ayat-ayat itu bertentangan.
Kemudian dapat diketahui bahwa ayat yang satu Makkiyah, sedang ayat
lainnya Madaniyah; maka sudah tentu ayat yang Makkiyah itulah
yang di nasakh oleh ayat yang Madaniyah, karena ayat yang Madaniyah
adalah yang terakhir turunnya.
b.
Dengan ilmu
ini pula, kita dapat mengetahui Sejarah Hukum Islam dan perkembangannya yang
bijaksana secara umum. Dan dengan demikian, kita dapat meningkatkan keyakinan
kita terhadap ketinggian kebijaksanaan islam di dalam mendidik manusia baik
secara perorangan maupun secara masyarakat.
c.
Ilmu ini dapat
meningkatkan keyakinan kita terhadap kebesaran, kesucian, dan keaslian
al-Quran, karena melihat besarnya perhatian umat islam sejak turunnya terhadap
hal-hal yang berhubungan dengan al-Quran, sampai hal yang paling detail
sekalipun, sehingga mengetahui ayat-ayat yang turun sebelum hijrah dan
sesudahnya, ayat-ayat yang diturunkan pada waktu Nabi berada di kota tempat
tinggalnya (domisilinya) dan ayat yang turun pada waktu Nabi sedang dalam
bepergian atau perjalanan, ayat-ayat yang turun pada malam hari dan siang hari,
dan ayat-ayat yang turun pada musim panas dan musim dingin dan sebagainya.
Dengan demikian, maka siapapun yang ingin
berusaha merusak kesucian dan keaslian al-Quran pastilah segera diketahui oleh
umat islam.
Dr. Shubhi al-Shalih dalam bukunya Mabahits
fi Ulum al-Qur’an menyatakan, bahwa dengan Ilmu al-Makky wa al- Madany
kita dapat mengetahui fase-fase (marhalah) dari dakwah islamiah yang di
tempuh oleh al-Quran secara berangsur-angsur dan yang sangat bijaksana itu,
kondisi masyarakat pada waktu turunnya ayat-ayat al-Qur’an, khususnya
masyarakat Mekah dan Madinah. Demikian pula, dengan ilmu ini kita dapat
mengetahui uslub-uslub / style-style bahasanya yang berbeda-beda, karena
ditunjukkan pada golongan-golongan yang berbeda, yakni orang-orang
mukmin, orang-orang musyrik, dan orang-orang ahlul kitab, demikian pula
orang-orang munafik.
2.5 Faedah Surat Makkiyah
dan Madaniyah
Faedah mengetahui ayat atau
surah Makkiyah dan madaniyah secara umum antara lain:[20]
1.
Mengerti perbedaan uslub-uslub (gaya bahasa dan
stailisasi) al-Qur’an.
2.
Mengetahui dialetika al-Qur’an dengan
masyarakatnya, dalam transformasi dan kontruksi ideologi masyarakat baru dalam
sinaran wahyu ilahi.
3.
Mudah mengenali ayat atau surah yang turun lebih dahulu dan yang belakangan
dan mudah mengenali ayat atau surah hukum atau bacaannya yang telah (mungkin)
dinaskh (diganti), dan ayat atau surah yang menasakh.
4. Mengetahui prinsip-prinsip umum (kulliy)dari isi-isi ayat atau surah-surah
Makiyyah, dan primsip-prinsip khusus (juz’iy) dari isi ayat-ayat atau
surah-surah Madaniyyah.
5.
Mengetahui sejarah pembentukan dan penerapan
hukum islam (tarikh tashri’) yang amat bijak dalam menetapkan hukumnya
berdasarkan system sosial masyarakat.
6.
Mengetahui hikmah ditetapkan dan diterapkannya
suatu hukum (hikmah al-tashri’). Dengan demikian, maka dapat diketahui tujuan
dan cara penetapan serta pelaksanaan hukum islam atas pertimbangan sosio
kulturnya.
7.
Mengetahui teknik dan tahapan dakwah islamiah,
serta system dan pola pendidikan alQur’an yang disesuaikan dengan tahap
berpikir, komunikasi dan budaya masyarakatnya.
8.
Dapat mengetahui situasi dan kondisi masyarakat
kota Makkah dan Madinah pada saat al-Qur’an diturunkan.
9.
Akan dapat menambah keimanan seseorang tehadap
kebenaran kewahyuan al-Qur’an, dan keislaman al-Qur’an (Q.S al-Hijr : 9).
Selain
faedah-faedah diatas, ada beberapa faedah lain yang kami temukan di buku Studi
Ilmu Ilmu Qur’an karangan Manna’ Khalil al-Qattan, diantaranya[21]
1.
Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Qur’an, sebab pengetahuan
mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan
menafsurkannya dengan tafsiran yang benar.
2.
Meresapi gaya bahasa Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah
menuju jalan Allah., sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi,
merupakan arti palinh khusus dalam ilmu retorika.
3.
Menentukan sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat al-Qur’an, sebab turunnya
wahyu kepada Rsulullah sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwa,
baik pada periode Makkah maupun periode Madinah.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan
yang diperoleh berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya
adalah sebagai berikut:
1. Dalam
memaknai Makkiyah dan Madaniyah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para
ulama’. Hal ini terjadi karena berbedanya kriteria yang ditetapkan untuk
menetapkan Makkiyah atau Madaniyah sebuah surat atau ayat. Namun, meskipun
terjadi perbedaan dalam memberi makna Makkiyah dan Madaniyah para ulama’ mampu
memberikan kekhususan-kekhususan yang menjadi ciri ayat Makkiyah dan Madaniyah
untuk membedakan keduanya.
2. Pengklasifikasian para ulama mengenai al Makky dan al
Madany ada 7 yaitu: yang diturunkan di Madinah, yang diturunkan di Makkah, yang
diperselisihkan, Ayat-ayat
Makkiyah dalam Surat-surat Madaniyah, ayat-ayat Madaniyah dalam surat Makkiyah,
Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah sedang hukumnya Madany, ayat yang
diturunkan di Madinah sedang hukumnya Makky, dl
3. Karakteristik
yang paling menonjol ialah surat atau ayat Makkiyah pendek-pendek dan
kebanyakan berisi tentang kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu. Sedangkan ayat
atau surat Madaniyah panjang-panjang dan kebanyakan berisi tentang hokum-hukum
agama termasuk hukum amaliyyah seperti hukum tentang ibadah, muamalah dan lain
sebagainya.
4.
Urgensi pengetahuan tentang Makkiyah
& Madaniyah mempunyai tujuan :
-
Membantu dalam menafsirkan Al-Quran
-
Pedoman bagi
langkah-langkah dakwah
- Memberikan
informasi tentang Sirah Kenabian
5.
Terdapat banyak manfaat mengetahui surat Makkiyah dan Madaniyah, beberapa
faedah atau manfaat dari mempelajari tentang Makkiyah dan Madaniyah, di
antaranya yaitu mengetahui bukti ketinggian bahsa yang digunakan dalam Al
Quran, menegtahui hikmah dari pembuatan syari’at agama Islam, menjadi pelajaran
bagi para da’i yang berjuang di jalan Allah serta mengetahui antara nasikh dan
mansukh.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qaththan, Manna’. 2011. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta
Timur: Pustaka Al-Kautsar
Al-Qattan, Manna’ Khalil. 2011. Studi Ilmu Ilmu Qur’an. Jakarta: PT. Pustaka Litera Antarnusa.
Anwar,
Rosihan. 2008. Ulum Al-Qur’an. Jawa Barat: Pustaka Setia
Djalal, Abdul. 2013. Ulumul Qur’an. Surabaya: CV.
Dunia Ilmu
Musyafa’ah, Sauqiyah dkk. 2013. Studi Al-Qur’an. Surabaya: UIN Sunan Ampel
Supiana,
dkk . 2002 . Ulumul Quran. Bandung : Pustaka Islamika.
Yusuf,
Kadar M. 2009. StudiAl-Qur’an. Jakarta: Amzah
Zaid, Nasr Hamid Abu. 2000. Tekstualitas
Al Qur’an. Jakarta: Grasindo
[1] Syaikh Manna’ Al-Qaththan, Pengantar
Studi Ilmu Al-Qur’an, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, 2011, hlm. 61
[5] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al Qur’an, Grasindo, Jakarta,
2000
[6] Ibid
[8] Ibid
[10] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al Qur’an, Grasindo, Jakarta,
2000
[14] QS. Ali Imran:90
[15] QS. At-Taubah:117-118
[16] QS. An-Nisa':176
[17] QS. At-Taubah: 81
[18] QS. Al-Hajj:1-2
[19] Supiana dan M.Karman. Ulumul Quran, Pustaka Islamika,
Bandung, 2002, Cetakan pertama. Hal
103-104
Tidak ada komentar:
Posting Komentar