Sabtu, 22 Oktober 2016

SURAT MAKIYYAH DAN MADANIYAH

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Al-qur`an diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia ke arah yang terang dan jalan yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang didasarkan pada keimanan kepada Allah SWT dan risalah-risalah-Nya. Dimana tempat diturunkannya al-Qur’an itu berbeda sehingga hal itu menyebabkan kita membedakan Al-Qur’an dari segi tempat turunnya. Seperti yang kita ketahui, Al-Qur’an berdasarkan tempat turunnya itu dibedakan menjadi 2, yakni Makkiyah dan Madaniyah.
Para ulama antusias untuk menyelidiki surat-surat Makkiyah dan Madaniyah. Mereka meneliti ayat demi ayat dan surat demi surat untuk ditertibkan sesuai dengan turunnya, dengan memperhatikan waktu, tempat, dan pola kalimat. Lebih dari itu, mereka mengumpulkan antara waktu, tempat, dan pola kalimat. Cara demikian merupakan suatu kecermatan yang memberikan kepada peneliti gambaran mengenai kebenaran ilmiah tentang ilmu Makkiyah dan Madaniyah.[1]
Surat Makkiyyah adalah ayat–ayat yang di turunkan di Makkah selama 12 tahun 5 bulan 13 hari, terhitung sejak tanggal 17 Ramadhan tahun ke-14 dari kelahiran Nabi (6 Agustus 610 M) sampai tanggal 1 Rabi’ul Awwal tahun ke-54 dari kelahiran Nabi. Sedangkan Surat Madaniyyah adalah ayat-ayat yang di turunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah selama 9 tahun 9 bulan 9 hari, terhitung sejak Nabi hijrah ke Madinah sampai tanggal 9 Dzulhijjah tahun 63 dari kelahiran Nabi. Sedangkan menurut Abdurrahman bin Ibrahim Al-Fauzan Surah Makkiyah yaitu surah-surah yang turun/ datang sebelum adanya perintah hijrah ke Madinah, meski turunnya diluar di luar kota Makkah, adapun Surah-surah Madaniyah yaitu surah-surah yang turun /datang sesudah adanya perintah hijrah, meski turunnya di dalam kota Makkah.[2]
Dari uraian diatas dapat kita angkat suatu permasalahan tentang Ilmu Makky dan al- Madany yang meliputi antara lain : Pengertian al-Makky dan al-Madany, Urgensi Ilmu al-Makky dan al-Madany, karakteristik al-Makky dan al-Madany, dll. yang akan dibahas dalam makalah ini.
1.2  Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini adalah:
1.      Apa definisi dan bagaimana penentuan al Makky dan al Madany?
2.      Bagaimana klasifikasi al Makky dan al Madany?
3.      Apa saja karakteristik al Makky dan al Madany?
4.      Apa urgensi ilmu al Makky dan al Madany?
5.      Apa saja faedah Surat Makkiyah dan Madaniyah?
1.3   Tujuan
Tujuan yang ditulisnya makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui definisi dan penentuan al Makky dan al Madany
2.      Untuk mengetahui klasifikasi al Makky dan al Madany
3.      Untuk mengetahui karakteristik al Makky dan al Madany
4.      Untuk mengetahui urgensi ilmu al Makky dan al Madany
5.      Untuk mengetahui faedah Surat Makkiyah dan Madaniyah

























BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi dan Penentuan al Makky dan al Madany
      Adapun dasar yang dapat menentukan sesuatu surah itu Makkiyah atau Madaniyah, ada dua hal, yaitu:[3]
1.   Dasar aghlabiyah (mayoritas), yakni kalau sesuatu surah itu mayoritas atau kebanyakan ayat-ayatnya adalah Makkiyah, maka disebut sebagai surah Makkiyah. Sebaliknya, jika yang terbanyak ayat-ayat dalam sesuatu surah itu adalah Madaniyah atau diturunkan setelah Nabi hijrah ke Madinah, maka surah tersebut disebut sebagai surah Madaniyah.
2.   Dasar taba’iyah (kontinuitas), yakni kalau permulaan sesuatu surah itu didahului dengan ayat-ayat yang turun di Makkah/turun sebelum hijrah, maka surah tersebut disebut atau berstatus sebagai surah-surah Makkiyah. Begitu pula sebaliknya jika ayat-ayat pertama dari suatu surah itu diturunkan di Madinah atau yang berisi hukum-hukum syariat, maka surah tersebut dinamakan sebagi surah Madaniyah.
Dasar kedua ini didasarkan kepada hadis riwayat ibnu Abbas r.a. :
كَانَتْ إِذَااُنْزِلَتْ فَاتِحَةُ صُوْرَةٍ بِمَكَّةَ كُتِبَتْ بِمَكَّةَ ثُمَّ يَزِيْدُاللهُ فِيْهَامَايَشَاءُ
Artinya: “Kalau awal surah itu diturunkan di Makkah, maka dicatat sebagai surah Makkiyah, lalu Allah menambahkan dalam surah itu ayat-ayat dikehendaki-Nya”.
Ada beberapa definisi tentang Makkiyah dan Madaniyah yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini disebabkan oleh berbedanya kriteria yang ditetapkan untuk menetapkan Makkiyah atau Madaniyah sebuah surat atau ayat.
Adapun kriteria tersebut diantaranya:
A.    Teori Mulahasah Makan an-Nuzul (Teori Geografis)
“ Makkiyah ialah suatu ayat yang diturunkan di Mekkah, sekalipun sesudah hijrah, sedang Madaniyah ialah yang diturunkan di Madinah”.
Berdasarkan rumusan di atas, Makkiyah adalah semua surat atau ayat yang dinuzulkan di wilayah Mekkah dan sekitarnya. Sedangkan Madaniyyah adalah semua surat atau ayat yang dinuzulkan di Madinah. Adapun kelemahan pada rumusan ini karena tidak semua ayat Al Quran dimasukkan dalam kelompok Makkiyah atau Madaniyah. Alasannya ada beberapa ayat Al Quran yang dinuzulkan jauh di luar Mekkah dan Madinah. Bahkan, ada sebagian ulama’ yang mendasarkan penentuan Makkiyah atau madaniyah sebuah surat atau ayat berdasarkan masal nuzul surat atau ayat.[4]
Ada juga yang berpendapat bahwa surah Makkiyah adalah yang turun di Mekah dan sekitarnya, seperti Mina, Arafah dan Hudaibiyah. Dan surah Madaniyah ialah yang turun di Madani dan sekitarnya seperti Uhud, Quba dan Sili’.
B.     Teori Mulahazah Zaman an-Nuzul (Teori Historis)
Teori ini berorientasi pada sejarah waktu turun ayat Al-Qur’an. Menurut teori ini ayat Makkiyah adalah ayat atau surah yang turun sebelum Nabi saw berhijrah. Sedangkan ayat Madaniyah adalah ayat atau surah yang turun sesudah nabi berhijrah. Teori ini berpegang pada dalil riwayat Abu Amr Uthman bin za’id ad-Darimi yang di sadarkan pada Yahya bin Salam:
ما نزل بمكة وما نزل في طريق المدينة  قبل ايبلغ النبي صل الله عليه وسلم المدينة فهو من المكي . وما نزل علي النبي صل الله عليه وسلم في اسفره بعدما قدم المدينة فهو من المدني.                             
Ayat yang di turunkan di Makkah dan ayat yang di turunkan dalam perjalan menuju Madinah sebelum Nabi saw tiba di Madinah, maka ia masuk kata gori ayat Makkiyah. Dan ayat yang di tirunkan pada Nabi Saw dalam perjalanannya setelah beliau tiba di Madinah, maka ia masuk kata gori ayat Madaniyah.
Teori ini banyak pendukungnya, baik dari mayoritas ulama’ klasik, maupun modern, bahkan dari ulama’ kontemporer saat ini. Kelebihan rumusan teori ini antara lain; karena mencakup keseluruhan ayat 1 atau surah Al-Qur’an, sehingga dapat di jadikan ketentuan dan definisi yang memadai. Sedang kelemahanya hanya terletak pada kejanggalan beberapa ayat atau surah Al-Qur’an yang nyata-nyata turun di makkah, tetapi karena turun sudah hijrah, lalu di anggap Madaniyah. Seperti Q.S al-maidah: 3;
اليَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُم ُالاسْلاَمَ دِيْنًا 
   Artinya :
Pada hari ini telahku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telahku cukupkan kepadamu nikmatku, dan telah ki rudhoi islam itu jadi agama bagimu. 
            Ayat di atas turun pada hari Jum’ah, di Arofah pada waktu Nabi Saw dan masarakat muslim sedang wukuf. Juga Q.S.an-Nisa'; 58;
            انَّ اللهَ يَأمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُوا الاْمَانَاتِ الَى اَهْلِهَا
Sesungguhnya Allah menyuruh  kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
Ayat ini turun di tengah kota Makkah sewaktu Nabi Saw berada di dalam ka’bah.
C.     Teori Mulahazah Mukhatabin fi an-Nuzul (Teori Subjektif)
Teori ini berorientasi pada subjek siapa yang di khitabi (dituju) oleh ayat al-Qur’an. Menurut teori ini, pengertian Makkiyah adalah ayat atau surah yang berisi panggilan kepada penduduk Makkah dengan menggunakan kitab.  ياايّهاالناّ س  (wahai manusia), ياايّهاالكا فرون(wahai orang-orang yang ingkar),يابني ادم   (wahai anak adam). Dan ayat atau surah Madaniyah adalah ayat atau surah yang berisi panggilan kepada penduduk Madinah dengan menggunakan panggilan: يااليها الذّين اموا (wahai orang-orang yang beriman).[5]
Teori ini didasarkan atas riwayat Abu Ubaid dari Makmun bin Mihran dalam kitab Fadail al-Qur’an yang menjelaskan:[6]
ما كان في القران بيا ايهالناس,أويا بني ادم فإ نه مكى,و ما كان بيا ايها الذين امنوا, فإ نه مدني
Ayat yang memuat panggilan dengan  يا ايهالناس atau  يا بني ادمmaka ia termasuk ayat Makki, dan ayat yang menggunakan panggilan dengan
يا ايها الذين امنوا  maka ia adalah ayat Madani.
Teori ini di dasarkan atas riwayat Abu Amr Uthman bin Sa’id al-Darimi yang di dasarkan pada Yahya bin Salam;[7]
ما كان من القران "يا ايهاالذين امنوا",فهو مدني وم كان " يا ايهالناس" فهو مكي
Dan ayat yang memuat panggilan dengan  يا ايهاالذين امنوا, maka ia adalah ayat Madani. Dan ayat yang menggunakan panggilan dengan  ياايهالناس,maka ia adalah ayat Makki.
Kelebihan teori ini rumusannya lebih mudah dimengerti, dan lebih cepat di  kenali dengan kriteria panggilan (nida', khitab) yang khas dari keduanya tersebut. Kelemahan teori ini juga lebih banyak dari teori-teori yang lain. Setidaknya ada beberapa kelemahan dari teori ini antara lain.
1.      Rumusan pengertianya tidak dapat ketentuan, karena tidak dapat mencakup seluruh ayat al-Qur'an. Dari keseluruhan ayat al-Alqur'an yang berjumlah 6236 ayat,hanya ada 511 ayat yang dimulai dengan pangggilan ( nida') yang khas Makkiyah berjumlah 292 ayat,dan yang khas  Madaniyah berjumlah 219 ayat.
2.      Rumusan kriterianya juga tidak dapat berlaku secara menyeluruh .Karena ada beberapa ayat yang dimulai dengan panggilan (nida') ياايهالناس bukan termasuk ayat Makkiyah.Seperti;
Q.S.al-Baqarah:21;                       ياايهالناس اعبدوا ربّم   
Q.S.an-Nisa': 1;                              ياايهالناس اتفوا ربكم   
Q.S. an-Nisa':133;                   ان يشأ يذهبكم ياايهالناس
3. Ada pula beberapa ayat yang dimulai dengan panggilan ( nida', khitab         ) ايهاالذين امنوا يا   tetapi bukan tergolong ayat atau surah Madniyah ,tetapi ayat atau surah Makkiyah,misalnya dalam Q.S.al-Hajj: 77;[8]
يا ايّها الذين امنوا اركعوا واسجدوا واعبدوا ربّكم وافعلوا الخير لعلّكم تفلحون
Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.
D.    Teori mulahazah ma tadammanah an-nuzul (Teori Content Analysis)
Makkiyah adalah ayat atau surat yang memuat cerita umat dan para Nabi terdahulu. Sedang ayat atau surat Madaniyah berisi tentang hukum hudud, faraid, dan sebagainya.[9]
                          Teori ini di dasarkan pada riwayat-riwayat sebagai berikut.[10]
   1) Riwayat hisham dari ayahnya, al-hakim
كل سورة ذكرت فيها الحدود والفرائض فهي مدينة كل سورة ذكرن فيه  القرون الماضية فهي مكية                                                         
Semua surah yang memuat aturan-aturan, ketentuan-ketentuan, maka ia termasuk surah madaniyah, dan semua surah yang memuat tentang peristiwa masa lampau, maka ia masuk kategori makkiyah.
               2)  Riwayat al-Qomah dari Abdullah;
Yang artinya: Semua surah yang memuat    يا أيهاالناس saja, atau كلا atau huruf-huruf  Hijaiyah selain dalam dua surah (al-Baqarah-Ali Imran), ancaman, atau kisah anak Adam dan Iblis selain dalam al-Baqarah, maka ia masuk kategori Makkiyah. Dan semua surah yang memuat kisah-kisah para Nabi, bangsa-bangsa terdahulu juga di sebut surah Makkiyah. Sedang surah yang memuat ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan maka ia di sebut dengan surah Madaniyah.
 Kelebihan teori ini adalah kriterianya jelas, sehingga mudah difahami dari segi pembicaraannya. Sedang kelemahan teori ini adalah dari sisi pelaksanaan pembedaan antara Makkiyah dan Madaniyah yang tidak praktis, karena harus mempelajari isi kandungan di dalam ayat atau surat Al Quran.
2.2 Klasifikasi Ayat al Makky dan al Madany
Para Ulama begitu tertarik untuk menyelidiki surah-surah Makki dan Madani. Mereka meneliti Qur’an ayat demi ayat dan surah demi surah untuk ditertibkan sesuai dengan nuzulnya, dengan memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat.
Yang terpenting dalam pengklasifikasian Makki dan Madani terdapat pada poin 1-7, sedangkan poin 8-14 merupakan klasifikasi yang lainnya, yakni sebagai berikut :
1.      Yang diturunkan di Madinah:
Ada dua puluh surat Madaniyyah, yakni al-baqarah, ali imran, an-nisa’, al-maidah, al-anfal, at-taubah, an-nur, al-ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Hadid, al-Mujadalah, al-Hasyr, al-Mumthanah, al-Jumu’ah, al-Munafiqun, at-Talaq, at-Tahrim, dan an-Nasr.[11]
2.      Yang diperselisihkan:
Sedang yang masih diperselisihkan ada dua belas surah, yakni al-Fathihah, ar-Ra’d, ar-Rahman, as-Saff, at-Taghabun, at-Tatfif, al-Qadar, al-Bayyinah, az-Zalzalah, al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas.
3.      Yang diturunkan di Mekkah:
Ada 82 surat sisanya, jadi jumlah surat-surat Qur’an itu semuanya seratus empat belas surat.
4.      Ayat-ayat Makkiyah dalam Surat-surat Madaniyah:
Dengan menamakan sebuah surat itu Makkiyah atau Madaniyah tidak berarti surah tersebut seluruhnya Makkiyah atau Madaniyyah, sebab di dalam surat Makkiyah terkadang terdapat ayat-ayat Madaniyyah, dan di dalam surat Madaniyyah pun terdapat ayat-ayat Makkiyah. Dengan demikian penamaan surat itu Makkiyah atau Madaniyyah adalah menurut sebagian besar ayat-ayat yang terkandung didalamnya.
Diantara sekian contoh ayat-ayat Makkiyah dalam surat Madaniyyah ialah surat al-Anfal, tetapi banyak ulama mengecualikan Surat: al-Anfal; 30).
Mengenai ayat ini, Muqatil mengatakan :”Ayat ini diturunkan di Mekkah; dan; pada lahirnya memang demikian, sebab ia mengandung apa yang dilakukan orang musyrik di Darun Nadwah ketika mereka merncanakan tipu daya terhadap Rasulullah sebelum hijrah.”
5.      Ayat-ayat Madaniyyah dalam surat Makkiyah:
Misalnya adalah surat Al-an’am .Ibn Abbas berkata ; ‘’ surah ini semuanya diturunkan  sekaligus di Mekkah, maka ia Mekkiah, kecuali  tiga  ayat dirturunkan di madinah,yaitu al-An’am ayat 151-153 ; Dan surah al-hajj adalah Makkiyah kecuali tiga ayat diturunkan di Madinah, dari firman Allah ; ‘’ inilah dua golongan yang bertengkar mengenai Tuhan mereka....’’ [surat al-Hajj ayat 19-21][12]
6.      Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah sedang hukumnya Madani:
Mereka memberi contoh dengan firman Allah ;
Artinya ;
‘’ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.’’
Ayat ini diturunkan di Mekkah pada hari penaklukan kota Mekkah, tetapi sebenarnya Madaniyyah karena diturunkan setelah hijrah; di samping itu seruannya pun bersifat umum. Ayat seperti ini oleh para ulama tidak dinamakan Makki dan tidak juga dinamakan Madani secara pasti. Tetapi mereka katakan ‘’ Ayat yang diturunkan di Mekkah sedang hukumnya Madani’’.
7.      Ayat yang diturunkan di Madinah sedang hukumnya Makky:
Mereka memberi contoh dengan surah mumthahana. Surah ini diturunkan di Madinah dilihat dari segi tempat turunnya, tetapi seruannya ditujukan kepada orang musyrik penduduk Mekkah. Juga seperti permulaan surah al-Baqarah yang diturunkan di Madinah, tetapi seruannya ditujukan kepada orang-orang musyrik penduduk Mekkah.[13]
8.      Yang serupa dengan yang diturunkan di Makkah dalam kelompok Madaniyah
Yang dimaksud di sini oleh para ulama adalah ayat-atyat yang terdapat dalam surat Madaniyah tetapi mempunyai gaya bahasa dan ciri-ciri umum seperti surat Makiyah. Contohnya adalah firman Allah dalam surat Al-Anfal yang Madaniyah,
"Dan ingatlah ketika mereka golongan musyrik berkata "Ya Allah, jika benar Al-Qur'an ini dari Engkau, hujankanlah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih." (QS. Al-Anfal:32)"
Hal ini dikarenakan permintaan kaum musyrikin untuk disegerakan adzab adalah di Makkah.
9.      Yang serupa dengan yang diturunkan di Madinah dalam kelompok Makiyah
Yang dimaksud para ulama ialah kebalikan dari yang sebelumnya. Mereka memberi contoh dengan firman Allah dalam surat An-Najm,
"Yaitu mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil." (QS. An-Najm:32)
Menurut As-Suyuthi, perbuatan keji adalah setiap dosa yang ada sanksinya. Dan kesalahan-kesalahan kecil ialah apa yang terdapat di antara kedua dosa-dosa di atas. Sementara itu di Makkah belum ada sanksi dan serupa dengannya.
10.  Ayat yang dibawa dari Makkah ke Madinah
Contohnya ialah surat Al-A'la, HR. Al-Bukhari dari AL-Bara' bin Azib yang mengatakan "orang yang pertama kali datang kepada kami di kalangan sahabat nabi adalah Mush'ab bin Umairdan Ibnu Ummi Maktum. Keduanya membacakan Al-Qur'an kepada kami. Sesudah itu datanglah Ammar, Bilal, dan Sa'ad. Kemudian datang pula Umar bin Al-Khattab sebagai orang yang kedua puluh. Baru setelah itu datanglah nabi. Aku melihat penduduk Madinah bergembira setelah aku membaca 'Sabbihisma rabbikal a'la' dari antara surat yang semisal dengannya."
Pengertian ini cocok dengan Al-Qur'an yang dibawa oleh golongan Muhajirin, lalu mereka mengajarkan kepada kaum anshar.
11.  Ayat yang dibawa dari Madinah ke Makkah
Contohnya dari awal surat Al-Bara'ah, yaitu ketika Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam memerintahkan kepada Abu Bakar untuk pergi haji pada tahun ke sembilan. Ketika awal surat Al-Bara'ah trurun, Rasulullah memerintahkan Ai bin Abi Thalib untuk membawa ayat tersebut kepada Abu Bakar, agar ia sampaikan kepada kaum musyrikin. Maka Abu Bakar pun membacakannya kepada mereka dan mengumumkan bahwa tahun ini tidak ada seorang musyrik pun yang bleh berhaji.
12.  Ayat yang turun di waktu malam dan di waktu siang
Kebanyakan ayat Al-Qur'an turun pada siang hari. Mengenai yang diturunkan pada malam hari, Abul qasim bin Muhammad bin Habib An-Naisaburi telah menelitinya. Dia memberikan beberapa contoh, di antaranya adalah bagian-bagian akhir surat Ali-Imran. Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, Ibnul Mundzir, Ibnu Mardawaih, dan Ibnu Abi Ad-Dunya, meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwa Bilal datang kepada nabi untuk memberitahu waktu shalat subuh. Tetapi ia melihat Nabi sedang menangis. Ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang menyebabkan engkau menangis?" Nabi menjawab, "Bagaimana saya tidak menangis, sementara tadi malam diturunkan kepadaku (ayat), "Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal”[14]. Kemudian Beliau bersabda, "Celakalah orang yang membacanya tetapi tidak mentadabburinya!"
Contoh lain ialah tentang tiga oraang yang tidak ikut berperang. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan, hadits ka'ab, "Allah menerima taubat kami pada sepertiga malam yang terakhir".[15]
Contoh lainnya ialah awal surat Al-Fath. Terdapat dalam Shahih Al-Bukhari, dari hadits Umar, "Telah diturunkan kepadaku pada malam ini sebuah surat yang lebih aku sukai daripada apa yang disinari matahari." Kemudian beliau membacakan, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata."
13.  Ayat yang turun di musim panas dan musim dingin
Para ulama memberi contoh ayat yang turun di musim panas dengan ayat tentang kalalah yang terdapat di akhir surat An-Nisa'. Dalam shahih Muslim, dari Umar, dikemukakan, "Tidak ada yang sering kutanyakan kepada Rasulullah tentang sesuatu seperti pertanyaanku mengenai kalalah. Dan beliau pun tidak pernahbersikap kasar tentang sesuatu urusan seperti sikapnya kepadaku mengenai soal kalalah ini. Sampai-sampai beliau menekan dadaku dengan jarinya dan berkata, "Hai Umar, belum cukupkah bagimu satu ayat yang diturunkan pada musim panas yang terdapat di akhir Surat An-Nisa'?"[16]
Contoh lain ialah ayat-ayat yang turun dalam perang tabuk. Perang tebuk terjadi pada musim panas yang berat sekali, seperti yng dinyatakan dalam Al-Qur'an.[17]
Sedangkan untuk yang turun di musim dingin, mereka contohkan dengan ayat-ayat mengenai "tuduhan bohong" yang terdapat dalam surat An-Nur, " Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga..." sampai dengan "Bagi mereka ampunkan dan rezeki yang mulia." (An-Nur:11-26)
HR. Al-Baihaqi dalam Dala'il An-Nubuwwah, dari Hudzaifah, ia berkata, "Orang-orang yang meninggalkan Rasulullah pada malam peristiwa Ahzab, kecuali 12 orang lelaki. Lalu, Rasulullah datang kepadaku, dan berkata, 'Bangkit dan berangkatlah ke medan perang Ahzab!' Aku menjawab, 'Wahai Rasulullah, demi yang mengutus engkau dengan sebenarnya, aku mematuhi engkau karena malu, sebab hari dingin sekali.' Lalu turun wahyu Allah 'Wahai orang yang beriman, ingatlah akan nikmat yang Allah telah karuniakan kepadamu ketika datang kepadamu tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu lihat. Dan Allah Maha melihat segala yang kamu kerjakan.'" (Al-Ahzab:9)
14.  Yang turun di waktu menetap dan perjalanan
Mayoritas ayat-ayat dan surat-surat Al-Qur'an turun pada saat Nabi dalam keadaan menetap. Akan tetapi, karena kehidupan Rasulullah tidak pernah lepas dari jihad dan perang di jalan Allah, maka wahyu pun turun juga dalam perjalanan tersebut. Imam As-Suyuthi menyebutkan banyak contoh ayat yang turun dalam perjalanan. Di antaranya adalah awal surat Al-Anfal yang turun di Badar setelah selesai perang, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Sa'ad bin Abi Waqqash.
Sedang ayat,
"Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya ke jalan Allah...." (At-Taubah:34)
Diriwayatkan Ahmad dari Tsauban, bahwa ayat tersebut turun ketika Rasulullah dalam salah satu perjalanan.
Juga awal surat Al-Hajj. At-Tirmidzi dan Al-hakim meriwayatkan dari imran bin Husain yang menyatakan, "Ketika turun kepada Nabi ayat, 'Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya goncangan Hari Kiamat itu adalah satu kejadian yang sangat besar... sampai dengan.... tetapi adzab Allah sangat kerasnya,[18] beliau sedang berada dalam perjalanan."
Begitu juga surat Al-Fath. Al-Hakim dan yang lain meriwayatkan, dari Al-Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Al-Hakam, keduanya berkata "Surat Al-Fath dari awal sampai akhir turun di antra Makkah dan madinah berkaitan masalah perdamaian Hudaibiyah."
2.3 Karakteristik al Makky dan al Madany
Ilmu al-makkiyah dan al-madaniyah termasuk dalam kategori ilmu riwayah. Justru itu, ia tidak akan dapat dikuasai dan diketahui kecuali melalui riwayat dari sahabat. Karena hanya merekalah yang menyaksikan turunnya ayat-ayat Al-qur'an kepada Nabi, dalam suasana, tempat, dan masa tertentu. Atau boleh juga melalui riwayat tabi’n yang mereka terima dari sahabat.
Ada dua cara yang dapat digunakan untuk mengetahui ayat al-makkiyah dan al-madaniyyah, yaitu sima’i dan qiyasi (analogi). Yang pertama adalah berdasarkan penjelasan para sahabat secara langsung. Hal ini dapat diketahui melalui riwayat yang telah ditulis oleh para ahli hadits seperti al-kuttub as-sittah, yang terakhir adalah dengan cara membandingkan tanda-tanda al-makky atau al-madany  dengan struktur ayat yang terdapat dalam surah.
Dari keterangan sahabat Nabi r.a dan tabi'an dalam membangun teori Makkiyah dan Madaniyah antara lain;
1.    Fitur dan Karakteristik Ayat dan Surah Makkiyah;
a.  Dimulai dengan nida' "يا ايها الناس " dan sebagainya
b.  Di dalmnya terdapat lafadz  " كلا"
c.   Di dalamnya terdapat ayat-ayat sajadah.
d.   Di permulaan  terdapat huruf-huruf tahaji ( harf al-muqattaah).
e.    Di dalamnya terdapat cerita-cerita para nabi dan umat terdahulu, selain dalam Q.S.al-Baqarah. dan Q.S. al-Maidah
f.   Di dalamnya terdapat cerita tentang kemusyrikan
g.  Di dalamnya terdapat keterangan adat istiadat orang kafir, orang musyrik, yang suka mencuri, merampok, membunuh, mengubur hidup-hidup anak perempuanya dan sebagainya.
h.  Di dalamnya berisi penjelasan dengan bukti dan argumentasi tentang konsepsi ketuhanan ( jadal al-Qur'an )
i.      Membuat prinsip-prinsip moral dan pranata social yang agung,bersifat universal dan inklusif
j.      Memuat nasehat dan ibarat dalam aneka kisah
k.    Berisi nida' "" يا بني ادم , يا اليهاالناس , يا اليهاالكافرون  
l.      Kebanyakan ayat dan surahnya pendek.Karena menggunakan bentuk ijaz ( ringkas, tetapi padat makna ).
2. Fitur dan Karakteristik Ayat dan Surah Madaniyah;
a.    Memuat Hukum pidana ( hudud ) dalam Q.S. al-Baqarah, Q.S an-Nisa', Q.S. Q.S. al-Maidah, Q.S. ash-Shura,dan lain sebagainya.
b.    Memuat hukum fara'id ( Q.S.al-Baqarah, Q.S.an-Nisa', Q.S.al-Maidah).
c.    Berisi izin jihad fi sabilillah (Q.S.al-Anfal, Q.S.at-Taubah, Q.S.al-Hajj).
d.   Berisi keterangan tentang karakter orang- orang munafiq ( kecuali Q.S al-Ankabut) dalam Q.S an-Nisa', Q.S.al-Anfal, Q.S.at-Taubah, Q.S.al-Ahzab, Q.S.al-Fath, Q.S.al-Hadid, Q.S.al-Munafiqun, Q.S.at-Tahrim.
e.    Berisi Hukum ibadah Q.S. al-Baqarah,Q.S.al-Imran,Q.S.an-Nisa', Q.S.al-Maidah, Q.S.al-Anfal dan lain-lain.
f.     Berisi hukum muamalah, seperti jual beli, sewa- menyewa, gadai, utang-piutang dan sebagainya.( Q.S.al-Baqarah, Q.S.al-Imran dll)
g.    Berisi hukum munakahat, baik mengenahi Nikah Cerai Rujuk (NCR ), hadanah ( Q.S. al-Baqarah, Q.S.al-Imran, Q.S.an-Nisa', Q.S.al-Maidah, dan lain-lain ).
h.    Berisi hukum kemasyarakatan, kenegaraan  seperti permusyawaratan, kedisiplinan, kepemimpinan, pendidikan, pergaulan, dan sebagainya.
2.4 Urgensi Mengetahui Ilmu al Makky dan al Madany
1.       Membantu dalam menafsirkan Al-Quran
Dengan mengetahui tempat-tempat turun ayat dapat membantu untuk memahami ayat dan menafsirkannya. Jika ada pelajaran yang dapat diambil daripadanya itu berbentuk lafaz umum bukan dengan menentukan sebab. Orang yang menafsirkannya itu sanggup memberikan penjelasan ketika terjadi pertentangan makna ketika pada dua ayat, supaya berbeda antra nasikh dan mansukh. Jika yang belakangan itu nasikh supaya ditempatkan di depan.
 2.      Pedoman bagi langkah-langkah dakwah
Setiap kondisi tentu saja memerlukan ungkapan-ungkapan yang relevan. Ungkapan-ungkapan dan intonasi berbeda yang digunakan ayat-ayat Makiyyah dan ayat-ayat Madaniyah memberikan informasi metodologi bagi cara-cara menyampaikan dakwah agar relevan dengan orang yang diserunya. Oleh karena itu dakwah Islam berhasil mengetuk hati dan menyembuhkan segala penyakit rohani orang-orang yang diserunya. Disamping itu, setiap langkah-langkah dakwah memiliki objek kajian dan metode-metode tertentu, seiring dengan perpedaan kondisi sosio-kultural manusia. Periodesasi Makkiyah dan Madaniyah telah memberikan contoh untuk itu.
 3.      Memberikan informasi tentang Sirah Kenabian
Penahapan turunnya wahyu seiring dengan perjalanan dakwah Nabi, baik di Mekah dan Madinah, dimulai sejak diturunkannya wahyu pertama sampai diturunkannya wahyu terakhir. Dengan demikian Al-Quran adalah pedoman bagi perjalanan dakwah Nabi yang informasinya tidak diragukan lagi.
Selain dari yang telah diterangkan diatas, masih banyak sekali hikmah mengetahui  Ilmu Makkiyah dan Madaniyah. Dalam hal ini, al-Zarqani di dalam kitabnya manahil al-’irfan menerangkan sebagian daripada hikmah ilmu-ilmu ini, diantaranya sebagai berikut[19]:
a.       Dengan ilmu ini kita dapat membedakan dan mengetahui ayat yang mana yang mansukh dan nasikh. Yakni apabila terdapat dua ayat atau lebih mengenai suatu masalah, sedang hukum yang terkandung di dalam ayat-ayat itu bertentangan. Kemudian dapat diketahui bahwa ayat yang satu Makkiyah, sedang ayat lainnya Madaniyah; maka sudah tentu ayat yang Makkiyah itulah yang di nasakh oleh ayat yang Madaniyah, karena ayat yang Madaniyah adalah yang terakhir turunnya.
b.      Dengan ilmu ini pula, kita dapat mengetahui Sejarah Hukum Islam dan perkembangannya yang bijaksana secara umum. Dan dengan demikian, kita dapat meningkatkan keyakinan kita terhadap ketinggian kebijaksanaan islam di dalam mendidik manusia baik secara perorangan maupun secara masyarakat.
c.       Ilmu ini dapat meningkatkan keyakinan kita terhadap kebesaran, kesucian, dan keaslian al-Quran, karena melihat besarnya perhatian umat islam sejak turunnya terhadap hal-hal yang berhubungan dengan al-Quran, sampai hal yang paling detail sekalipun, sehingga mengetahui ayat-ayat yang turun sebelum hijrah dan sesudahnya, ayat-ayat yang diturunkan pada waktu Nabi berada di kota tempat tinggalnya (domisilinya) dan ayat yang turun pada waktu Nabi sedang dalam bepergian atau perjalanan, ayat-ayat yang turun pada malam hari dan siang hari, dan ayat-ayat yang turun pada musim panas dan musim dingin dan sebagainya.
Dengan demikian, maka siapapun yang ingin berusaha merusak kesucian dan keaslian al-Quran pastilah segera diketahui oleh umat islam.
Dr. Shubhi al-Shalih dalam bukunya Mabahits fi Ulum al-Qur’an menyatakan, bahwa dengan Ilmu al-Makky wa al- Madany kita dapat mengetahui fase-fase (marhalah) dari dakwah islamiah yang di tempuh oleh al-Quran secara berangsur-angsur dan yang sangat bijaksana itu, kondisi masyarakat pada waktu turunnya ayat-ayat al-Qur’an, khususnya masyarakat Mekah dan Madinah. Demikian pula, dengan ilmu ini kita dapat mengetahui uslub-uslub / style-style bahasanya yang berbeda-beda, karena ditunjukkan pada golongan-golongan yang berbeda, yakni  orang-orang mukmin, orang-orang musyrik, dan orang-orang ahlul kitab, demikian pula orang-orang munafik.




2.5 Faedah Surat Makkiyah dan Madaniyah
Faedah mengetahui ayat atau surah Makkiyah dan madaniyah secara umum antara lain:[20]
1.      Mengerti perbedaan uslub-uslub (gaya bahasa dan stailisasi) al-Qur’an.
2.      Mengetahui dialetika al-Qur’an dengan masyarakatnya, dalam transformasi dan kontruksi ideologi masyarakat baru dalam sinaran wahyu ilahi.
3.      Mudah mengenali ayat atau surah yang turun lebih dahulu dan yang belakangan dan mudah mengenali ayat atau surah hukum atau bacaannya yang telah (mungkin) dinaskh (diganti), dan ayat atau surah yang menasakh.
4.     Mengetahui prinsip-prinsip umum (kulliy)dari isi-isi ayat atau surah-surah Makiyyah, dan primsip-prinsip khusus (juz’iy) dari isi ayat-ayat atau surah-surah Madaniyyah.
5.      Mengetahui sejarah pembentukan dan penerapan hukum islam (tarikh tashri’) yang amat bijak dalam menetapkan hukumnya berdasarkan system sosial masyarakat.
6.      Mengetahui hikmah ditetapkan dan diterapkannya suatu hukum (hikmah al-tashri’). Dengan demikian, maka dapat diketahui tujuan dan cara penetapan serta pelaksanaan hukum islam atas pertimbangan sosio kulturnya.
7.      Mengetahui teknik dan tahapan dakwah islamiah, serta system dan pola pendidikan alQur’an yang disesuaikan dengan tahap berpikir, komunikasi dan budaya masyarakatnya.
8.      Dapat mengetahui situasi dan kondisi masyarakat kota Makkah dan Madinah pada saat al-Qur’an diturunkan.
9.      Akan dapat menambah keimanan seseorang tehadap kebenaran kewahyuan al-Qur’an, dan keislaman al-Qur’an (Q.S al-Hijr : 9).
       Selain faedah-faedah diatas, ada beberapa faedah lain yang kami temukan di buku Studi Ilmu Ilmu Qur’an karangan Manna’ Khalil al-Qattan, diantaranya[21]
1.      Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Qur’an, sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsurkannya dengan tafsiran yang benar.
2.      Meresapi gaya bahasa Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah., sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi, merupakan arti palinh khusus dalam ilmu retorika.
3.      Menentukan sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat al-Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rsulullah sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwa, baik pada periode Makkah maupun periode Madinah.































BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya adalah sebagai berikut:
1.      Dalam memaknai Makkiyah dan Madaniyah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama’. Hal ini terjadi karena berbedanya kriteria yang ditetapkan untuk menetapkan Makkiyah atau Madaniyah sebuah surat atau ayat. Namun, meskipun terjadi perbedaan dalam memberi makna Makkiyah dan Madaniyah para ulama’ mampu memberikan kekhususan-kekhususan yang menjadi ciri ayat Makkiyah dan Madaniyah untuk membedakan keduanya.
2.      Pengklasifikasian para ulama mengenai al Makky dan al Madany ada 7 yaitu: yang diturunkan di Madinah, yang diturunkan di Makkah, yang diperselisihkan, Ayat-ayat Makkiyah dalam Surat-surat Madaniyah, ayat-ayat Madaniyah dalam surat Makkiyah, Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah sedang hukumnya Madany, ayat yang diturunkan di Madinah sedang hukumnya Makky, dl
3.      Karakteristik yang paling menonjol ialah surat atau ayat Makkiyah pendek-pendek dan kebanyakan berisi tentang kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu. Sedangkan ayat atau surat Madaniyah panjang-panjang dan kebanyakan berisi tentang hokum-hukum agama termasuk hukum amaliyyah seperti hukum tentang ibadah, muamalah dan lain sebagainya.
4.      Urgensi pengetahuan tentang Makkiyah & Madaniyah mempunyai tujuan :
-    Membantu dalam menafsirkan Al-Quran
-       Pedoman bagi langkah-langkah dakwah
 -      Memberikan informasi tentang Sirah Kenabian
5.      Terdapat banyak manfaat mengetahui surat Makkiyah dan Madaniyah, beberapa faedah atau manfaat dari mempelajari tentang Makkiyah dan Madaniyah, di antaranya yaitu mengetahui bukti ketinggian bahsa yang digunakan dalam Al Quran, menegtahui hikmah dari pembuatan syari’at agama Islam, menjadi pelajaran bagi para da’i yang berjuang di jalan Allah serta mengetahui antara nasikh dan mansukh.

           



DAFTAR PUSTAKA

Al-Qaththan, Manna’. 2011. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar
Al-Qattan, Manna’ Khalil. 2011. Studi Ilmu Ilmu Qur’an. Jakarta: PT. Pustaka Litera    Antarnusa.

Anwar, Rosihan. 2008. Ulum Al-Qur’an. Jawa Barat: Pustaka Setia

Djalal, Abdul. 2013. Ulumul Qur’an. Surabaya: CV. Dunia Ilmu

Musyafa’ah, Sauqiyah dkk. 2013. Studi Al-Qur’an. Surabaya: UIN Sunan Ampel

Supiana, dkk . 2002 . Ulumul Quran. Bandung : Pustaka Islamika.

Yusuf, Kadar M. 2009. StudiAl-Qur’an. Jakarta: Amzah

Zaid, Nasr Hamid Abu. 2000.  Tekstualitas Al Qur’an. Jakarta: Grasindo






[1] Syaikh Manna’ Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, 2011, hlm. 61
[2] Google, Education Ilmu Makkiyah dan Madaniyyah, (Illest Summer, 2011).
[3] Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, hal. 102
[4]Kadar M. Yusuf, StudiAl-Qur’an, Amzah, Jakarta,  2009, hal.28-29.
[5] Nasr Hamid Abu Zaid,  Tekstualitas Al Qur’an, Grasindo,  Jakarta, 2000
[6] Ibid
[7] Ibid
[8] Ibid
[9] Manna’ Khalil, Al Qattan,Studi Ilmu -Ilmu Al- Qur’an, Litera Antar Nusa, Bogor, 2006,  hal. 87
[10] Nasr Hamid Abu Zaid,  Tekstualitas Al Qur’an, Grasindo,  Jakarta, 2000
[11] Rosihan Anwar, Ulum Al-Qur’an, Pustaka Setia, Jawa Barat, 2008, hal. 113
[12] Ibid, Manna’ Khalil Al-Qattan,hal. 75
[13] Ibid, Manna’ Khalil Al-Qattan,hal. 76                                                      
[14] QS. Ali Imran:90
[15] QS. At-Taubah:117-118
[16] QS. An-Nisa':176
[17] QS. At-Taubah: 81
[18] QS. Al-Hajj:1-2
[19] Supiana dan M.Karman. Ulumul Quran, Pustaka Islamika, Bandung, 2002,  Cetakan pertama. Hal 103-104
[20] Sauqiyah Musyafa’ah, dkk., Studi Al-Qur’an, hal.114
[21] Manna’ Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu Ilmu Qur’an, hal. 82

Tidak ada komentar:

Posting Komentar