SISTEM PEREDARAN DARAH DALAM
AL-QUR'AN
1.1
Ayat al-Qur'an
yang berhubungan dengan Sistem Peredaran Darah
Qs. Al-Isra ayat 36
وَلَا تَقْفُ مَا
لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ
أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya:
"Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawabnya.”
Qs. Al-Qaaf ayat 16
وَلَقَدْ
خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ
أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya:
"Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami
lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Qs. Al-Haqqah ayat 45-46
Artinya:
"Niscaya benar-benar kami pegang dia
pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya."
1.2
Hadits yang
Berhubungan dengan Sistem Peredaran Darah
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ
كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُأَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
Artinya:
"Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal
daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya.
Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging
itu bernama qolbu (jantung)!" ( HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)[1]
1.3
Tafsir Ulama
Mengenai Qs. Al-Isra ayat 36
Ali Ibnu Abu Talhah telah
meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa makna la taqfu ialah la
taqul yang artinya janganlah kamu mengatakan. Menurut Al Aufi, janganlah
kamu menuduh seseorang dengan sesuatu yang tiada pengetahuan bagimu tentangnya.
Muhammad Ibnul Hanafiyah mengatakan, makna yang dimaksud ialah kesaksian palsu.
Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah kamu mengatakan
bahwa kamu melihatnya, padahal kamu tidak melihatnya, atau kamu mengatakan
bahwa kamu mendengarnya padahal kamu tidak mendengarnya, atau kamu mengatakan
bahwa kamu mengetahuinya padahal kamu tidak mengetahui. Karena sesungguhnya
Allah akan meminta pertanggungjawaban darimu tentang hal tersebut secara
keseluruhan. Kesimpulan pendapat mereka dapat diartikan bahwa Allah melarang
mengatakan sesuatu tanpa pengetahuan, bahkan melarang pula mengatakan sesuatu
berdasarkan zan (dugaan) yang bersumber dari sangkaan dan ilusi dari
hati serta pikiran.[2]
1.4
Tafsir Ulama
mengenai Qs. Al-Qaaf ayat 16
Para
ulama ahli tafsir berselisih pendapat mengenai makna kedekatan dalam Qs.
Al-Qaaf ayat 16, apakah yang dimaksud adalah kedekatan Allah atau kedekatan
malaikat. Abul Faroj menyebutkan bahwa ada dua pendapat ketika mengartikan
kedekatan dalam ayat di atas. Pertama adalah kedekatan para malaikat. Kedua
adalah kedekatan Allah dengan ilmu-Nya, sebagaimana yang disebutkan dari Abu
Sholih, dari Ibnu ‘Abbas.
Namun
ingat, mereka sama sekali tidak memaksudkan kedekatan di situ adalah kedekatan
Dzat Allah ‘azza wa jalla, yaitu Dzat Allah dekat dengan urat leher dari
seorang hamba. Jadi, jika ulama tersebut menafsirkan kedekatan di situ bukan
kedekatan para malaikat, maka mereka mereka akan menafsirkan bahwa kedekatan
tersebut adalah kedekatan dengan ilmu dan qudroh (kekuasaan) Allah. –Demikian
penuturan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[3]
Dari
dua tafsiran ulama mengenai “kedekatan” dalam surat Qaaf ayat 16, kedekatan
yang lebih tepat adalah kedekatan para malaikat bukan kedekatan ilmu Allah.
Alasannya adalah: Pertama: Melihat kelanjutan surat Qaaf ayat 16 yang
membicarakan tentang malaikat.[4]
Selengkapnya Allah Ta’ala berfirman, (QS. Qaaf: 16-18) yang berbunyi:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا
الإنْسَانَ
وَنَعْلَمُ
مَا
تُوَسْوِسُ
بِهِ
نَفْسُهُ
وَنَحْنُ
أَقْرَبُ
إِلَيْهِ
مِنْ
حَبْلِ
الْوَرِيدِ, إِذْ يَتَلَقَّى
الْمُتَلَقِّيَانِ
عَنِ
الْيَمِينِ
وَعَنِ
الشِّمَالِ
قَعِيدٌ
مَا
يَلْفِظُ
مِنْ
قَوْلٍ
إِلا
لَدَيْهِ
رَقِيبٌ
عَتِيدٌ
Artinya:
“Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan
oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu)
ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah
kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang
diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
Konteks ayat ini membicarakan tentang malaikat. Kedua: Yang
dimaksudkan “al insan (manusia)” dalam surat Qaaf ayat 16 adalah umum,
baik mukmin ataupun kafir. Jika kita menyatakan yang dimaksudkan dalam ayat itu
adalah kedekatan Allah, maka ini sangat bertentangan. Kedekatan Allah tidak
mungkin pada orang kafir. Kedekatan Allah hanya pada orang beriman saja.
Sehingga yang lebih tepat kita katakan, maksud ayat ini adalah kedekatan para
malaikat.[5]
Contoh
ayat yang semisal. Sama-sama menggunakan kata ‘Kami (nahnu)’, namun yang
dimaksudkan adalah kedekatan malaikat. Contohnya firman Allah Ta’ala, QS. Al
Qiyamah: 16-17yang berbunyi:
Artinya:
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk
(membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya
atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai)
membacanya.”
Yang
dimaksud dengan “Kami” di sini adalah Malaikat Jibril. Allah menyandarkan
perbuatan Jibril pada diri-Nya karena Jibril adalah utusan-Nya. Sebagaimana
dalam surat Qaaf ayat 16 Allah menyandarkan kedekatan malaikat pada diri-Nya
karena malaikat adalah utusan-Nya. Hal itu dibuktikan dalam Qs. Az-Zuhruh ayat
84 yang berbunyi:
Artinya:
“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak
mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan
utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.”
Sehingga
pendapat yang lebih tepat, yang dimaksud kedekatan dalam ayat tersebut adalah
kedekatan malaikat sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[6] Begitu
pula jika kita temukan dalam ayat lainnya yang menyebutkan kedekatan secara
umum (mencakup mukmin dan kafir), maka yang dimaksudkan adalah kedekatan para
Malaikat.[7]
Kedekatan
Allah di sini hanya dalam beberapa keadaan. Contoh kedekatan Allah adalah:
Pertama, Ketika berdo’a. Sebagaimana hal ini terdapat dalam QS. Al Baqarah: 186
yang berbunyi:
Artinya:
“Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu
dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon
kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah
mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Begitu juga terdapat dalil dalam Shohih Muslim pada Bab
‘Dianjurkannya merendahkan suara ketika berdzikir’, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ وَالَّذِى أَحَدِكُمْ
Artinya:
“Yang
kalian seru adalah Rabb yang lebih dekat pada salah seorang di antara kalian
daripada urat leher unta tunggangan kalian.”[8]
Kedua:
Ketika sujud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tempat yang paling dekat antara seorang
hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika
itu.”[9]
Jadi
kedekatan Allah adalah ketika seorang mukmin beribadah dan ketika seorang
mukmin berdo’a. Adapun kedekatan secara umum adalah kedekatan para malaikat,
sebagaimana pendapat yang lebih kuat.[10]
Di
antara akibat salah memahami kedekatan surat Qaaf ayat 16 tersebut adalah
berkeyakinan Allah menyatu dengan makhluk atau Allah berada dalam makhluk. Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Hal ini berbeda dengan pemahaman orang yang
menyimpang. Mereka menyangka bahwa Tuhan mereka bercampur dengan darah dan
daging manusia. Akibatnya mereka pun menyatakan bahwa manusia tidaklah
semata-mata disebut makhluk. Mereka mengatakan bahwa Pencipta dan makhluk itu
satu. Menurut sangkaan keliru mereka, Allah sebagai sesembahan berada di dalam
dan luar urat leher manusia. Jadi menurut mereka, Allah itu bercampur dengan
makhluk.[11]
Maha Suci Allah dari sangkaan buruk mereka.
Walaupun
dalam pembahasan kali ini kami membahas kedekatan Allah, namun sekali lagi
jangan dipahami bahwa maksud kedekatan di sini melazimkan Allah ada di
mana-mana sebagaimana anggapan sebagian orang yang salah kaprah. Tidak ada satu
pun ulama Ahlus Sunnah yang berjalan di atas kebenaran yang menyatakan seperti
itu. Allah tetap berada di atas langit sesuai dengan sifat yang layak bagi-Nya.
Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas ‘Arsy, terpisah dengan makhluk-Nya.
Keyakinan inilah yang menjadi konsensus (ijma’) para ulama Ahlus Sunnah wal
Jama’ah.[12]
Dalil-dalil
yang mendukung keberadaan Allah di atas seluruh makhluk-Nya amatlah banyak, sampai-sampai
ulama besar Syafi’iyah mengatakan bahwa ada 1000 dalil yang mendukung hal ini.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sebagian ulama besar Syafi’iyah
mengatakan bahwa dalam Al Qur’an ada 1000 dalil atau lebih yang menunjukkan
Allah itu berada di ketinggian di atas makhluk-makhluk-Nya. Sebagian mereka
mengatakan ada 300 dalil yang menunjukkan hal ini.”[13]
Di
antara dalil yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas langit, di atas
seluruh makhluk-Nya adalah: Pertama: Ayat tegas yang menyatakan Allah
beristiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy. ‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling
tinggi dan paling besar.
Contoh ayat tersebut adalah QS.
Thaha: 5 yang berbunyi:
الرَّحْمَنُ
عَلَى
الْعَرْشِ
اسْتَوَى
Artinya:
“(Yaitu)
Rabb Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy .”
Kedua:
Dalil yang menanyakan di manakah Allah. Seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah bertanya pada seorang budak, “Di mana Allah?” Budak itu
menjawab, “Di atas langit.” Lalu Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapa saya?” Budak tersebut
menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.” (HR. Muslim)
Adz
Dzahabi mengatakan, “Inilah pendapat kami bahwa siapa saja yang ditanyakan di
mana Allah, maka akan dibayangkan dengan fitrohnya bahwa Allah di atas langit.
Jadi dalam riwayat ini ada dua permasalahan: [1] Diperbolehkannya seseorang
menanyakan, “Di manakah Allah?” dan [2] Orang yang ditanya harus menjawab, “Di
atas langit”.” Lantas Adz Dzahabi mengatakan, “Barangsiapa mengingkari dua
permasalah ini berarti dia telah menyalahkan Musthofa (Nabi Muhammad)
shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[14]
Ketiga:
Dalil yang menyatakan bahwa Allah menceritakan mengenai Fir’aun yang ingin
menggunakan tangga ke arah langit agar dapat melihat Tuhannya Musa. Lalu
Fir’aun mengingkari keyakinan Musa mengenai keberadaan Allah di atas langit.
Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al Mu’min: 36-37 yang berbunyi:

Artinya:
Dan
Fir'aun berkata, "Wahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang
tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, agar aku
dapat melihat Tuhannya Musa, tetapi aku tetap memandangnya sebagai seorang
pendusta.” Dan demikianlah dijadikan terasa indah bagi Fir'aun perbuatan
buruknya itu, dan dia tertutup dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun
itu tidak lain hanyalah membawa
kerugian"
Abil ‘Izz mengatakan, “Mereka jahmiyah yang mendustakan ketinggian
Dzat Allah di atas langit, mereka itu termasuk pengikut Fir’aun. Sedangkan yang
menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa dan
pengikut Muhammad.”[15]
Begitu pula empat imam madzhab bersepakat mengenai hal ini. Bahkan
keyakinan ini adalah keyakinan semua nabi. Syaikh Abdul Qodir Al Jailani
mengatakan, “Keyakinan bahwa Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya telah
disebutkan dalam setiap kitab suci yang Allah turunkan pada para nabi.”[16]
Memang Betul Ilmu Allah Di Mana-Mana, Namun Bukan Dzat Allah. Jika
dikatakan ilmu Allah di mana-mana, itu memang benar. Namun jika dikatakan bahwa
Dzat Allah ada di mana-mana, maka perkataan seperti ini berarti telah
mendustakan 1000 dalil dalam Al Qur’an. Lihatlah perkataan imam madzhab dan
para ulama.
Abdullah bin Nafi’ berkata bahwa Malik bin Anas mengatakan, “Allah
berada di atas langit. Sedangkan ilmu-Nya berada di mana-mana, segala sesuatu
tidaklah lepas dari ilmu-Nya.”[17]
Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanyakan, “Apakah Allah ‘azza wa
jalla berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari
makhluk-Nya, sedangkan kemampuan dan ilmu-Nya di setiap tempat (di mana-mana)?”
Imam Ahmad pun menjawab, “Betul sekali. Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, namun
setiap tempat tidaklah lepas dari ilmu-Nya".[18]
Dari ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, dia berkata, “Aku berkata kepada
Abdullah bin Al Mubarok, bagaimana kita mengenal Rabb kita ‘azza wa jalla.
Ibnul Mubarok menjawab, “Rabb kita berada di atas langit ketujuh dan di atasnya
adalah ‘Arsy. Tidak boleh kita mengatakan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang
Jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah berada di sini yaitu di muka bumi.”
Kemudian ada yang menanyakan tentang pendapat Imam Ahmad bin Hambal mengenai
hal ini. Ibnul Mubarok menjawab, “Begitulah Imam Ahmad sependapat dengan kami.”[19]
1.5
Tafsir Ulama
Mengenai Qs. Al- Haqqah ayat 45-46
Menurut suatu pendapat, makna ayat
ialah niscaya Kami hokum dia dengan tangan kanan Kami. Dikatakan demikian
karena pukulan yang dilakukan olehnya jauh lebih keras. Menurut pandangan ulama
yang lainnya lagi mengatakan, niscaya benar-benar Kami pegang dia dengan tangan
kanannya.[20]
Ibnu Abbas mengatakan bahwa al-wafin
artinya urat tali jantungnya. Hal yang semisal dikatakan oleh Ikrimah, Said
Ibnu Jubair, Al-Hakam, Qatadah, Ad-Dahhak, Muslim Al-Batin, dan Abu Sahkr alias
Humaid Ibnu Ziad. Menurut Muhammad Ibnu Ka'b, makna yang dimaksud ialah jantung
dan semua uratnya serta semua bagian yang dekat dengannya. [21]
1.6
Tafsir dan
Pendapat Ulama Mengenai Hadits dengan kata "Qalbu"
Mungkin penting untuk diketahui
disini, bahwa kata “heart” dalam dunia kedokteran
berarti jantung, bukan hati. Adapun “hati” dalam kedokteran adalah liver. Karena itu kata ?qalb?
dalam bahasa Arab, diterjemahkan oleh penulis paper tersebut menjadi “heart”,
yang dalam bahasa Indonesia berarti jantung.[22] Jantung
disebutkan beberapa kali di Al-Qur’an dan hadits. Perbedaan keadaan jantung
(seringkali kata “heart” diartikan sebagai “hati” dalam teks Indonesia)
digambarkan di Al-Qur’an menjadi tiga: keadaan jantung orang mukminin, kafirun,
dan munafiqun. Orang-orang mukminin digambarkan memiliki jantung yang hidup,
orang kafir memiliki jantung yang mati, sedangkan orang munafik memiliki
jantung yang sakit. Dua tipe jantung yang dijelaskan dalam Al-Qur’an
yaitu jantung secara spiritual dan fisik.
Para
ulama menyatakan terdapat 2 tipe dari jantung spiritual: syubhat (keragu-raguan
karena suatu hal yang dalilnya masih dalam pembicaraan atau masih ada
perselisihan, maka lebih baik menghindari hal tersebut sebagai bentuk
kehati-hatian) dan syahwat/nafsu yang ketika berlebihan maka akan membawa
keburukan. Emosi, tingkah laku, pengetahuan, penyakit, keinginan, kejujuran,
aksi dan reaksi semuanya berakar pada jantung. Dengan demikian, peranan jantung
di dalam Islam tidak hanya dipandang secara fisiologi tetapi juga dari sisi
psikologi.
Al-Qur’an
dan hadits menganalogikan jantung sebagai pengatur emosi sehingga menjadikan
jantung memiliki banyak karakteristik yang pada kedokteran modern dianggap
berasal dari otak. Selain memandang jantung dari sisi psikologis, Islam juga
memandang jantung dari segi anatomis dan fisiologis. Seperti dalam hadits di atas.
Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa ternyata jantung merupakan kumpulan
otot (segumpal daging) dan bukannya cair seperti darah ataupun padat dan keras
seperti tulang.[23]
1.7
Integrasi Sistem
Peredaran Darah dalam Al-Qur'an
Dalam sejarah Kristen di abad
pertengahan dan masa Renaissance, pengaruh gereja Kristen melumpuhkan
perkembangan sains, bahkan jika pengamatan sains di era kejayaan Islam
berkembang luas itu disebabkan ajaran Islam mendorong dan mendukung riset
sains.[24]
Selain itu, dalam Islam pencarian ilmu pengetahuan merupakan bagian dari ibadah
kepada Allah dan merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam, seperti dalam
hadits berikut:
طَلَبُ الْعِلْمِ
فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
Artinya :
”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi
setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)
Kemajuan
ilmu kedokteran saat ini nampaknya melupakan kontribusi dari sejumlah teks-teks
agama, salah satunya al-Qur'an dan hadits. Pada sebuah tulisan disebutkan
mengenai deskripsi yang akurat mengenai struktur anatomi, prosedur bedah,
karakteristik fisiologis dan medis. Artikel ini hanya sebagian kecil dari
luasnya ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan sistem peredaran darah ini,
khususnya jantung dan pembuluh darah (alat-alat yang berkaitan dengan peredaran
darah).
Seperti
yang telah dijelaskan di atas, bahwa kata "heart" dalam dunia biologi
dan kedokteran berarti jantung bukan hati. Adapun "hati" secara anatomi
yaitu liver. Karena kata "qalb" dalam bahasa arab yang bila
diterjemahkan menjadi "heart" yang berarti jantung.
Berkenaan dengan sistem perdaran darah dan
jantung ini sudah terlebih dahulu dijelaskan Allah dalam Qs. Al-Qaaf ayat 16
yang berbunyi:
وَلَقَدْ
خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ
أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya:
"Dan sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami
lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Al-Qur'an memang bukanlah kitab sains,
melainkan petunjuk bagi orang-orang yang beriman, apapun yang tertulis di dalam
al-Qur'an pastilah benar dan tidak ada keraguan di dalmnya. Namun di dalam
al-Qur'an terdapat makna yang tersurat dan tersirat. Jika makna tersurat maka
sudah pasti semua orang bisa membaca dan memahaminya. Apabila terdapat makna
yang tersirat, diperlukan gabungan dari berbagai disiplin ilmu untuk
menafsirkannya.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan,
telah ditulis tafsir tematik yang berkaitan dengan ilmu-ilmu tertentu untuk
mempermudah dalam mempelajarinya, khususnya ilmu sains.Dewasa ini telah banyak
ditemukan hasil penelitian sains modern yang sesuai dengan apa yang
diisyaratkan al-Qur'an. Seperti ayat di atas yang berhubungan dengan sistem
peredaran darah.
1. Pembuluh darah
Dari ayat di atas (Qs. A;-Qaaf ayat 16)
apabila dilihat secara anatomi, urat leher yang dimaksud dalam ayat tersebut
yaitu vena jugular. Yang mana vena jugular ini membawa darah dari bagian kepala
(otak, kranium/tempurung kepala, dan wajah) dan leher untuk kembali ke jantung,
jadi dapat disimpulkan bahwa pembuluh ini sangat penting bagi kelangsungan
hidup manusia.

Gambar 1. Merupakan gambar letak vena
jugular (urat leher) secara anatomi
Pembuluh darah
besar lainnya yang disebutkan dalam al-Qur'an ialah al-Aatiin (aorta).
Aorta merupakan pembuluh darah besar yang mengalirkan darah langsung dari
jantung untuk dialirkan ke seluruh tubuh. Dalam Qs. Al-Haqqah ayat 45-46
berbunyi:
Artinya:
"Niscaya benar-benar kami pegang dia
pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya."
Aorta memiliki aliran darah yang
cepat karena tekanannya langsung berasal dari kontraksi jantung, selain itu
volume darahnya masih sangat banyak (hanya punya percabangan kecil yaitu
koroner) oleh karena iu ketika aorta dipotong maka konsekuensinya dlah
terjadinya pendarahan hebat yang mengakibatkan kematian.[25]
Ayat ini lebih kurang menjelaskan
mengenai dua hal, yang pertama yaitu darah merupakan 'kendaraan' untuk dapat
hidup, dan yang kedua yaitu arteri yang langsung berasal dari jantung (aorta)
penting untuk mempertahankan kehidupan.[26]

Gambar
2. Gambar aorta (Urat tali jantung)
2. Jantung
Jantung disebutkan beberapa kali di
Al-Qur’an dan hadits. Perbedaan keadaan jantung (seringkali kata “heart”
diartikan sebagai “hati” dalam teks Indonesia) digambarkan di Al-Qur’an menjadi
tiga: keadaan jantung orang mukminin, kafirun, dan munafiqun. Orang-orang
mukminin digambarkan memiliki jantung yang hidup,[27]
orang kafir memiliki jantung yang mati, sedangkan orang munafik memiliki
jantung yang sakit.[28]

Gambar 3. Gambar jantung secara anatomi
Jantung (bahasa Latin: cor) adalah sebuah rongga, rongga organ berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang. Istilah kardiak berarti berhubungan dengan jantung, dari kata Yunani
cardia
untuk jantung.
Jantung adalah salah satu organ manusia yang berperan dalam sistem peredaran darah.[29]
Jantung
terletak dalam rongga dada agak sebelah kiri, di antara paru-paru kanan dan
paru-paru kiri. Massanya kurang lebih 300 gram, besarnya sebesar kepalan
tangan. Jantung adalah satu otot tunggal yang terdiri dari lapisan endothelium. Jantung terletak di
dalam rongga torakik, di balik tulang
dada. Struktur jantung berbelok ke bawah dan sedikit ke arah kiri.
Jantung hampir sepenuhnya diselubungi oleh paru-paru, namun
tertutup oleh selaput ganda yang bernama perikardium, yang
tertempel pada diafragma. Lapisan
pertama menempel sangat erat kepada jantung, sedangkan lapisan luarnya lebih
longgar dan berair, untuk menghindari gesekan antar organ dalam tubuh yang
terjadi karena gerakan memompa konstan jantung. Jantung dijaga di tempatnya
oleh pembuluh-pembuluh darah yang meliputi daerah jantung yang merata/datar,
seperti di dasar dan di samping. Dua garis pembelah (terbentuk dari otot) pada
lapisan luar jantung menunjukkan di mana dinding pemisah di antara serambidan bilik jantung.[30]
Secara
internal, jantung dipisahkan oleh sebuah lapisan otot menjadi dua belah bagian,
dari atas ke bawah, menjadi dua pompa. Kedua pompa ini sejak lahir tidak pernah
tersambung. Belahan ini terdiri dari dua rongga yang dipisahkan oleh dinding
jantung. Maka dapat disimpulkan bahwa jantung terdiri dari empat rongga,
serambi kanan & kiri dan bilik kanan & kiri.[31]
Dinding
serambi jauh lebih tipis dibandingkan dinding bilik karena bilik harus melawan
gaya gravitasi bumi untuk memompa dari bawah ke atas dan memerlukan gaya yang
lebih besar untuk mensuplai peredaran darah besar, khususnya pembuluh aorta, untuk memompa ke seluruh bagian tubuh yang memiliki pembuluh
darah.[32]
Tiap
serambi dan bilik pada masing-masing belahan jantung disambungkan oleh sebuah
katup. Katup di antara serambi
kanan dan bilik
kanan disebut katup
trikuspidalis atau katup
berdaun tiga. Sedangkan katup yang ada di antara serambi
kiri dan bilik
kiri disebut katup
mitralis atau katup bikuspidalis (katup berdaun dua).
Pada
saat berdenyut setiap ruang jantung mengendur dan terisi darah (disebut diastol). Selanjutnya jantung
berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung (disebut sistol). Kedua serambi mengendur dan
berkontraksi secara bersamaan, dan kedua bilik juga mengendur dan berkontraksi
secara bersamaan.
Darah
yang kehabisan oksigen dan mengandung banyak karbondioksida (darah kotor) dari
seluruh tubuh mengalir melalui dua vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam
atrium kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, ia akan mendorong darah ke
dalam ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis.
Darah
dari ventrikel kanan akan dipompa melalui katup
pulmoner ke dalam arteri
pulmonalis menuju ke paru-paru. Darah akan
mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (pembuluh
kapiler) yang mengelilingi kantong udara di
paru-paru, menyerap oksigen, melepaskan karbondioksida dan selanjutnya
dialirkan kembali ke jantung.[33]
Darah
yang kaya akan oksigen mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke atrium kiri.
Peredaran darah di antara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri
disebutsirkulasi pulmoner karena
darah dialirkan ke paru-paru.
Darah
dalam atrium kiri akan didorong menuju ventrikel kiri melalui katup bikuspidalis/mitral,
yang selanjutnya akan memompa darah bersih ini melewati katup
aorta masuk ke dalam aorta (arteri terbesar dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini
disirkulasikan ke seluruh tubuh, kecuali paru-paru. dan sebagainya.
3. Darah
Dalam al-Qur'an biasanya
dijelaskan keharaman memakan darah, seperti dalam Qs. Al-Baqarah ayat 173 yang
berbunyi:

Artinya:
“
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah dan daging babi dan
(daging) hewan yang disembelih dengan (
menyebut nama ) selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa ( memakannya ) bukan
karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak
ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua
makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan
zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai
pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah
medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah.
Pada serangga, darah
(atau lebih dikenal sebagai hemolimfe) tidak terlibat dalam peredaran oksigen.
Oksigen pada serangga diedarkan melalui sistem trakea berupa saluran-saluran
yang menyalurkan udara secara langsung ke jaringan tubuh. Darah serangga
mengangkut zat ke jaringan tubuh dan menyingkirkan bahan sisa metabolisme.
Pada hewan lain, fungsi utama darah ialah
mengangkut oksigen dari paru-paru atau insang ke jaringan tubuh. Dalam darah terkandung hemoglobin yang berfungsi sebagai pengikat oksigen. Pada
sebagian hewan tak bertulang belakang atauinvertebrata yang berukuran kecil, oksigen langsung meresap ke dalam plasma darah karena
protein pembawa oksigennya terlarut secara bebas. Hemoglobin merupakan protein
pengangkut oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan-hewan bertulang
belakang atau vertebrata. Hemosianin, yang berwarna biru, mengandung tembaga, dan
digunakan oleh hewancrustaceae. Cumi-cumi menggunakan vanadium kromagen (berwarna hijau muda, biru, atau
kuning oranye).[34]
Darah manusia adalah cairan di dalam tubuh yang
berfungsi untuk mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh.
Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa
metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem
imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari
berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem
endokrin juga diedarkan melalui darah.[35]
Darah manusia berwarna merah, antara merah
terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna
merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya
molekul-molekul oksigen.
Manusia memiliki sistem peredaran darah
tertutup yang berarti darah mengalir dalam pembuluh
darah dan disirkulasikan oleh jantung. Darah
dipompa oleh jantung menuju paru-paru untuk melepaskan sisa metabolisme berupa karbon
dioksida dan menyerap oksigen melalui pembuluharteri pulmonalis, lalu
dibawa kembali ke jantung melalui vena pulmonalis.
Setelah itu darah dikirimkan ke seluruh tubuh oleh saluran pembuluh darah aorta. Darah membawa oksigen ke seluruh tubuh melalui saluran halus darah
yang disebut pembuluh kapiler. Darah kemudian kembali kejantung melalui pembuluh darah vena cava superior dan vena cava inferior. Darah
juga mengangkut bahan bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan dibawa ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni.[36]
Darah terdiri daripada beberapa jenis
korpuskula yang membentuk 45% bagian dari darah, angka ini dinyatakan dalam
nilai hermatokrit atau volume sel darah merah yang dipadatkan
yang berkisar antara 40 sampai 47. Bagian 55% yang lain berupa cairan
kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang disebut plasma
darah.
Korpuskula
darah terdiri dari:[37]
Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap sebagai sel dari segi biologi.
Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga
berperan dalam penentuan golongan darah. Orang yang
kekurangan eritrosit akan menderita penyakit anemia.
Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan
bertugas untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya oleh
tubuh, misal virus atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak memiliki
bentuk yang tetap. Orang yang kelebihan leukosit akan menderita penyakit leukimia, sedangkan
orang yang kekurangan leukosit akan menderita penyakit leukopenia.
4. Susunan
Darah. serum darah atau plasma terdiri atas:
3.
Mineral: 0.9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam dari kalsium, fosfor, , kalium dan
zat besi,nitrogen, dll)
·
bahan pembeku
darah
Demikian juga dengan darah Hewan, juga
mengandung:air, protein (Albumin, globulin, protrombin dan fibrinogen),mineral
(natrium klorida, natrium bikarbonat, garam darikalsium, fosfor, ,
kalium dan zat besi,nitrogen, dll).[38]


Gambar 4. Jenis-jenis darah Gambar 5. Gambar komposisi darah
4. Sistem
Peredaran Darah
Peredaran darah
pada manusia disebut peredaran darah tertutup karena darah mengalir dalam
pembuluh darah. Sistem peredaran darah pumonalis disebut juga peredaran darah
kecil. Darah dari seluruh tubuh yang kaya akan karbondioksida masuk ke
atrium kanan. Dari atrium kanan darah mengalir ke ventikel kanan. Selanjutnya,
ventrikel berkontraksi hingga katup trikuspidalis tertutup, tetapi memaksa
katup pulmonalis yang terletak pada lubang masuk arteri pulmonalis terbuka.
Arteri yang bercabang ke kiri dan bercabang membentuk arter kanan menuju
paru-paru. Arteri bercabang membentuk arteriol. Arteriol mengalirkan darah ke
kapiler ke dalam paru-paru. Di sini lah darah melepas karbondioksida dan
mengambil oksigen. Vena pulmonalis membawa darah kaya oksigen ke atrium kiri.
Sedangkan sistem peredaran darah sistematik atau peredaran darah besar cara
kerjanya sebaliknya.[39]
Peredaran darah
besar jantung
Peredaran darah
kecil jantung

Gambar 6.
Sistem peredaran darah
a.
Sistem Limfatik
1) Mengalirkan
cairan interstitial. Pembuluh limfatik mengalirkan kelebihan cairan
interstitial yang berasal dari ruang antar sel.
2) Menstranspor
lemak dari makanan.
3) Memfasilitasi
reaksi imun. Jaringan limfatik membangkitkan reaksi spesifik yang sangat tinggi
terhadap mikroorganisme tertentu atau sel yang abnormal.
b. Pembuluh
Limfatik
Kapiler
limfatik adalah suatu saluran dengan ujung tertutup yang terletak pada ruang
antar sel . Kapiler limfatik terdapat diseluruh tubuh kecuali di jaringan yang
tidak berpembuluh seperti tulang dan kornea mata.
Pad usus halus kapiler limfatik mengalami
spesialisasi yang disebut lacteal.
Jaringan dan Organ Limfatik:[41]
1) Sumsum tulang
merah terdapat didalam tulang pipih dan epifise tulang pipa pada orang dewasa.
Sumsum tulang merah merupakan tempat pembentukan limfosit.
2) Kelenjar timus
memiliki dua lobus yang terletak di bagian atas tulang dada , tiap lobus
terdiri atas bagian korteks dan medulla. Korteks tersusun atas sel limfosit dan
epitel. Medula tersusun atas sel epitel. Kelenjar timus memproduksi hormone
yang berfungsi dalam pematangan sel limfosit T.
3) Nodus limfe ,
sekitar 600 organ yang berbentuk seperti kacang dan terletak disepanjang
pembuluh limfe. Nodus limfe mengandung sel limfosit B dan T yang berfungsi
dalam menghancurkan berbagai senyawa dan se lasing. Nodus limfe juga berfungsi
menyaring cairan limfe yang mengalir dalam pembuluh limfatik saat cairan limfe
melewati nodus limfe.
4) Limpa ,
berbentuk oval, jaringan limfatik terbesar didalam tubuh, panjang sekitar 12cm
, terletak diantara perut dan diafragma. Terdiridari pulpa putih dan pulpa
merah. Pulpa putih mengandung limfosit dan makrofag. Pulpa merah mengandung
pembuluh darah.
5) Nodulus
limfatikus, merupakan sekumpulan jaringan limfatik terpanjang di jaringan ikat
yang terdapat pada membrane mucus yang membatasi dinding saluran pencernaan,
saluran reproduksi, saluran urin dan saluran respirasi. Bentuknya tonsil dan
folikel limfatik. Tosil terdapat di tenggorokan , folikel limfatik terdapat di
permukaan dinding usus halus.
[1] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam,
Ibnu Rajab Al Hambali, tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Ibrahim Bajis,
terbitan Muassasah Ar Risalah,cetakan kedelapan, tahun 1419 H.
[4] Lihat Majmu’ Al Fatawa, 5/504-505. Lihat pula penjelasan Syaikh
Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ketika menjelaskan surat Qaaf ayat 16 dalam
Tafsir Al ‘Allamah Muhammad Al ‘Utsaimin, 8/15, Asy Syamilah
[14] Mukhtashor Al ‘Uluw, Syaikh Al Albani, Adz Dzahabiy, Tahqiq: Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 81, Al Maktab Al Islamiy, cetakan kedua,
1412 H
[15] Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, Ibnu Abil ‘Izz Ad Dimasyqi ,
Dita’liq oleh Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki dan Syaikh Syu’aib Al
Arnauth, 2/441, Mu’assasah Ar Risalah, cetakan kedua, 1421 H
[16] Fathu Robbil Bariyyah bi Talkhishil Hamawiyyah, Muhammad bin Sholeh
Al Utsaimin, hal. 33, Darul Atsar, cetakan pertama, 2002
[22] http://www.arrahmah.com/read/2012/06/27/21238-kebenaran-islam-tentang-jantung-manusia-yang-ditulis-oleh-al-quran.html
[35] Aryulina, Diah, Choirul Muslim, Syalfinaf Manaf
dan Endang Widi Winarni. 2007.Biologi 2. Jakarta: Esis
[39] Aryulina, Diah, Choirul Muslim, Syalfinaf Manaf
dan Endang Widi Winarni. 2007.Biologi 2. Jakarta: Esis
Assalamu'alaikum wr.wb...blog yg isinya bagus dan sangat bermanfaat, sayang backgroundnya sangat tidak islami..sepasang kekasih yng maaf wanitanya pakai pakaian yg bertentangan dengan al qur'an..
BalasHapus